Social Icons

Pages

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RING 2: DUA MENARA BUKU 3 BAB 4/11 TREEBEARD

<<< SEBELUMNYA
Sementara itu, kedua hobbit berlari secepat mungkin ke dalam hutan gelap dan kusut itu, mengikuti garis aliran sungai, ke arah barat dan mendaki lereng pegunungan, masuk semakin jauh ke dalam Fangorn. Lambat laun ketakutan mereka pada Orc mereda, dan kecepatan berjalan mereka mengendur. Muncul perasaan aneh yang terasa mencekik, seakan-akan udara terlalu tipis atau terlalu sedikit untuk bernapas.

Akhirnya Merry berhenti. "Kita tak bisa berjalan terus seperti ini," ia terengah-engah. "Aku ingin mendapat sedikit udara segar."
"Baiklah, mari kita minum," kata Pippin. "Aku haus sekali." ia merangkak menaiki akar pohon besar yang melingkar masuk ke dalam sungai, dan dengan membungkuk ia mengambil sedikit air dalam tangannya yang ditangkupkan. Air itu jernih dan dingin, dan ia minum beberapa teguk. Merry mengikutinya. Air itu menyegarkan mereka, dan seolah membuat gembira; untuk beberapa saat, mereka duduk bersama di pinggir sungai, membasahi kaki dan tungkai yang sakit, sambil memandang ke sekeliling, melihat pepohonan yang berdiri diam di sekitar mereka, baris demi baris, sampai pepohonan itu mengabur dalam cahaya senja kelabu ke semua arah.
"Kuharap kau belum membuat kita tersesat?" kata Pippin, bersandar ke sebatang pohon besar. "Setidaknya kita bisa mengikuti aliran sungai ini, Entwash atau apa namanya, dan keluar lagi melalui jalan kita masuk?"
"Bisa, kalau kaki kita mau melakukannya," kata Merry, "dan kalau kita bisa bernapas dengan benar."
"Ya, memang semuanya remang-remang dan pengap di dalam sini," kata Pippin. "Entah mengapa, ini mengingatkan aku pada ruangan kuno di Rumah Besar Took, di Smials di Tuckborough: ruangan itu besar, perabotnya belum pernah dipindahkan atau diganti selama beberapa generasi. Mereka bilang, Old Took tinggal di sana tahun demi tahun. Ruangan itu semakin tua dan lusuh bersamaan dengan dirinya dan ruangan itu tak pernah diubah sejak dia meninggal, seabad yang lalu. Dan Old Gerontius adalah kakek buyutku: begitulah ceritanya. Tapi itu bukan apa-apa dibandingkan kesan kuno dalam hutan ini. Lihat semua janggut dan kumis lumut yang menangis dan menggantung! Dan kebanyakan pohon tampaknya tertutup daun kering pecah-pecah yang tak pernah jatuh. Semrawut. Aku tak bisa membayangkan pemandangan musim semi di sini, kalau pernah ada musim semi datang apalagi kalau ada pembersihan musim semi."
"Tapi Matahari setidaknya pasti mengintip sesekali," kata Merry. "Di sini sama sekali tidak tampak atau terasa seperti uraian Bilbo tentang Mirkwood. Di sana semuanya gelap dan hitam, dan menjadi tempat bermukim segala sesuatu yang hitam. Di sini hanya remang-remang dan penuh pepohonan menyeramkan. Tak bisa dibayangkan hewan hidup di sini, atau tinggal lama di sini."
"Tidak, begitu juga hobbit," kata Pippin. "Dan aku tak senang membayangkan mencoba melintasinya. Tak ada yang bisa dimakan sejauh bermil-mil, kuduga. Bagaimana keadaan persediaan bahan makanan kita?"
"Tipis," kata Merry. "Kita lari hanya membawa beberapa kantong lembas, dan meninggalkan yang lainnya." Mereka mengamati kue Peri yang tersisa: pecahan-pecahan yang pas-pasan untuk sekitar lima hari, itu saja. "Dan tidak ada selimut," kata Merry. "Kita akan kedinginan malam ini, ke mana pun kita berjalan."
"Well, sebaiknya kita memutuskan arah jalannya sekarang," kata Pippin. "Pagi sudah semakin larut." Tepat pada saat itu muncul seberkas cahaya kekuningan, agak lebih jauh di dalam hutan: berkas-berkas sinar matahari tampaknya mendadak menembus atap hutan.
"Halo!" kata Merry. "Matahari pasti masuk ke awan-awan ketika kita berada di bawah pepohonan ini, dan sekarang dia sudah keluar lagi; atau kalau tidak, dia sudah naik cukup tinggi untuk bisa menembus suatu lubang. Tidak begitu jauh ayo kita pergi memeriksanya!"
Ternyata jaraknya lebih jauh daripada yang mereka sangka. Tanah masih mendaki curam, dan mulai penuh bebatuan. Cahaya itu semakin luas ketika mereka maju terus, dan tak lama kemudian mereka melihat sebuah dinding batu karang di depan: sisi sebuah bukit, atau ujung sebuah akar panjang yang menjorok keluar dari pegunungan yang jauh. Tak ada pohon tumbuh di atasnya, dan matahari jatuh penuh ke wajahnya yang berbatu. Ranting-ranting pohon di kakinya terentang kaku dan diam, seolah menggapai kehangatan. Di mana tadi semuanya kelihatan begitu lusuh dan kelabu, hutan itu sekarang mengilap penuh warna cokelat yang kaya, dan warna mulus hitam-kelabu kulit batang pohon yang seperti dipoles. Batang-batang pohon bersinar lembut kehijauan, seperti rumput muda: mereka seperti berada di tengah awal musim semi.
Pada wajah tembok batu ada sesuatu seperti tangga: mungkin alami, dan terjadi karena pecahnya bebatuan dan dimakan cuaca, sebab permukaannya kasar dan tidak rata. Tinggi di atas, hampir satu permukaan dengan puncak-puncak pohon di hutan, ada dataran di bawah batu karang. Tak ada yang tumbuh, kecuali sedikit rumput dan alang-alang di ujungnya, dan sebuah tunggul pohon tua dengan hanya dua dahan tersisa: hampir tampak seperti sosok pria tua keriput, berdiri di sana, berkedip-kedip di bawah cahaya matahari pagi.
"Ayo naik!" kata Merry dengan riang. "Mari kita hirup udara segar, dan melihat pemandangan daratan!" Mereka mendaki dan merangkak menaiki batu karang. Seandainya tangga itu memang sengaja dibuat, maka pasti untuk dipanjat kaki yang lebih besar dan tungkai yang lebih panjang daripada kaki mereka. Mereka terlalu bergairah, hingga tidak menyadari bahwa mereka sudah pulih dari goresan dan luka-luka saat ditangkap, dan bahwa semangat mereka pun sudah kembali. Akhirnya mereka sampai ke pinggir
dataran, hampir dekat kaki tunggul pohon tua itu; lalu mereka melompat naik dan menoleh sambil membelakangi bukit, menarik napas panjang, dan memandang ke arah timur. Mereka melihat bahwa mereka hanya masuk sekitar tiga atau empat mil ke dalam hutan: kepalakepala pohon berbaris menuruni lereng-lereng, menuju padang. Di sana, dekat ujung hutan, kepulan asap hitam keriting seperti menaramenara tinggi naik ke atas, bergoyang dan melayang ke arah mereka.
"Angin sudah berganti arah," kata Merry. "Sudah ke arah timur lagi. Rasanya sejuk di sini."
"Ya," kata Pippin, "aku khawatir cahaya ini hanya lewat, dan sebentar lagi semuanya akan kelabu lagi. Sayang sekali! Hutan tua lusuh ini kelihatan begitu berbeda di bawah cahaya matahari. Aku merasa hampir menyukai tempat ini."
"Hampir menyukai Hutan ini! Bagus sekali! Sangat baik hati," kata sebuah suara asing. "Berbaliklah dan biarkan aku memandang wajah kalian. Aku tadi hampir merasa tidak menyukai kalian berdua, tapi janganlah kita terburu-buru. Putar!" Sebuah tangan besar dengan buku jari berbonggol-bonggol memegang pundak mereka, dan mereka pun diputar, lembut tapi tegas; lalu dua tangan besar mengangkat mereka.
Mereka menatap sebuah wajah yang luar biasa aneh. Wajah milik sosok serupa Manusia, hampir seperti troll, tingginya sekitar empat belas kaki, kekar, dengan kepala tinggi, dan hampir tidak ada lehernya. Entah ia mengenakan pakaian seperti kulit kayu hijau dan kelabu, ataukah itu kulitnya sendiri, sulit dikatakan. Setidaknya tangannya, di bagian yang dekat ke batang tubuhnya, tidak keriput, tapi tertutup kulit mulus berwarna cokelat. Kakinya yang besar masing-masing mempunyai tujuh jari. Bagian bawah wajahnya yang panjang tertutup janggut kelabu panjang, tebal, hampir seperti ranting di dekat akar-akarnya, tipis dan berlumut pada ujungnya. Tapi saat itu para hobbit hanya memperhatikan matanya. Mata yang dalam itu sekarang meneliti mereka, lambat dan serius, tapi sangat tajam. Mata itu cokelat, dengan bercak cahaya hijau. Kelak Pippin sering mencoba menguraikan kesan pertamanya tentang mata tersebut.
"Seolah-olah ada sumur yang sangat dalam di balik matanya, terisi berabad-abad ingatan dan pikiran yang lambat, panjang, dan tenang; tapi permukaannya bersinar-sinar dengan masa kini: seperti matahari yang bercahaya di atas daun-daun paling luar sebuah pohon besar, atau di atas riak-riak telaga yang sangat dalam. Entah ya, tapi rasanya seakan-akan sesuatu yang tumbuh di tanah bisa dikatakan tertidur, atau merasakan dirinya sendiri, sebagai sesuatu di antara ujung akar dan ujung daun, di antara tanah dalam dan langit mendadak terbangun dan mengamatimu dengan perhatian lamban, seperti yang diberikannya pada masalah-masalah di dalam dirinya sendiri selama bertahun-tahun yang tak terhingga."
"Hrum, Hum," gumam suara itu, suara besar seperti alat musik tiup. "Aneh sekali! Jangan terburu-buru, itu motoku. Tapi kalau aku melihat kalian sebelum mendengar suara kalian aku suka suara kalian: suara-suara kecil manis, mengingatkanku akan sesuatu yang tak bisa kuingat kalau aku melihat kalian sebelum mendengar suara kalian, pasti kalian akan kuinjak, dan baru menyadari kekeliruanku sesudahnya, sebab kupikir kalian Orc-Orc kecil. Kalian aneh sekali, memang aneh. Akar dan ranting, aneh sekali!" Pippin, meski masih kaget, sudah tidak merasa takut lagi. Di bawah pandangan mata itu, ia merasakan ketegangan aneh, tapi bukan ketakutan. "Tolong," kata Pippin, "siapa kau? Dan apakah kau ini sebenarnya?" Sorot aneh melintas dalam mata tua itu, semacam sikap hati-hati; sumur yang dalam itu tertutup kini. "Hram, nah," jawab suara itu; "well, aku ini Ent, atau begitulah sebutanku. Ya, Ent, itulah sebutannya. Sang Ent, itulah aku, begitu bisa dikatakan dalam gaya bahasamu. Fangorn adalah namaku menurut beberapa orang; yang lain menyebutku Treebeard. Treebeard saja."
"Ent?" kata Merry. "Apa itu? Tapi bagaimana kau memanggil dirimu sendiri? Siapa namamu yang sebenarnya?"
"Hei, hei!" jawab Treebeard. "Hei! Itu namanya membuka rahasia! Jangan terburu-buru. Dan aku yang bertanya di sini. Kau berada di negeriku. Kau ini apa? Aku heran. Aku tidak tahu jenis kalian. Rasanya kalian tidak ada dalam daftar-daftar kuno yang kupelajari ketika aku masih muda. Tapi itu sudah sangat sangat lama di masa lalu, dan mungkin mereka sudah membuat daftar baru. Sebentar! Sebentar! Bagaimana ya sajaknya?
Kini pelajari pengetahuan Makhluk Dunia! Pertama-tama sebut yang empat, bangsa-bangsa merdeka: Yang tertua, anak-anak Peri; Kurcaci sang penggali, gelap rumahnya; Ent yang lahir di bumi, setua pegunungan yang dihuni Manusia, insan fana, majikan kuda-kuda:
Hm, hm, hm.
Berang-berang si pembangun, kijang si peloncat, Beruang pemburu lebah, babi hutan petarung gegabah; Anjing si lapar, kelinci si penakut …
hm, hm.
Rajawali di sarang, lembu di rerumputan, Rusa bertanduk; elang yang tercepat, Angsa si putih halus, ular yang dingin mulus …
Huum, hm, huum, hm, bagaimana terusannya? Rum tam, rum tam, rumti tum tam. Daftarnya panjang sekali. Tapi bagaimanapun kalian tidak termasuk di mana-mana!"
"Rupanya kami selalu tidak termasuk dalam daftar-daftar lama dan dongeng-dongeng kuno," kata Merry. "Tapi kami sudah ada untuk waktu cukup lama. Kami hobbit."
"Mengapa tidak membuat baris baru saja?" kata Pippin.
"Hobbit yang separuh tumbuh, penghuni lubang. Masukkan kami di antara yang empat, setelah Manusia (Bangsa Besar) dan bereslah sudah."
"Hm! Tidak jelek, tidak jelek," kata Treebeard. "Cukup lumayan. Jadi, kalian tinggal di lubang, eh? Kedengarannya tepat dan pantas. Tapi siapa yang memanggil kalian hobbit? Itu tidak seperti kata dalam bahasa Peri. Bangsa Peri-lah yang membuat semua kata-kata kuno: mereka yang memulainya."
"Tidak ada yang menyebut kami hobbit; kami sendiri menamakan diri kami begitu," kata Pippin.
"Hum, hm! Ayolah! Jangan terburu-buru! Kalian menyebut diri kalian sendiri hobbit? Tapi tidak seharusnya kalian ceritakan itu pada siapa pun. Nanti tahu-tahu kalian menyatakan nama kalian yang sebenarnya, kalau tidak hati-hati."
"Kami tidak perlu berhati-hati tentang itu," kata Merry. "Kalau kau mau tahu, aku seorang Brandybuck, Meriadoc Brandybuck, meski kebanyakan orang memanggilku Merry saja."
"Dan aku dari keluarga Took, Peregrin Took, tapi biasanya dipanggil Pippin, atau bahkan Pip."
"Hm, tapi kalian memang bangsa yang tergesa-gesa, rupanya," kata Treebeard. "Aku merasa terhormat mendapat kepercayaan kalian, tapi sebaiknya kalian jangan terlalu bebas sekaligus. Ada Ent, dan ada Ent, tahu? Atau ada Ent dan ada hal-hal yang tampak seperti Ent, tapi sebenarnya bukan Ent. Aku akan memanggil kalian Merry dan Pippin nama-nama bagus. Tapi aku tidak akan menceritakan namaku pada kalian, setidaknya belum sekarang." Sorot aneh setengah tahu dan setengah geli memancar dengan binar-binar hijau dari dalam matanya.
"Pertama, hal itu akan makan waktu lama: namaku tumbuh sepanjang waktu, dan aku sudah hidup lama sekali; jadi, namaku seperti cerita panjang. Nama sebenarnya selalu menceritakan kisah dari benda-benda yang memiliki nama itu, dalam bahasaku, bahasa Ent kuno, bisa dikatakan begitu. Bahasa itu bagus, tapi makan waktu lama sekali untuk mengatakan sesuatu dalam bahasa itu, karena kami tak pernah mengatakan apa pun dalam bahasa itu, kecuali memang pantas menghabiskan waktu lama untuk mengatakannya, dan mendengarkannya.
"Tapi sekarang," matanya menjadi sangat cerah dan menyorotkan "masa kini", juga tampak semakin mengecil dan hampir-hampir tajam "apa yang sedang terjadi? Apa yang kalian lakukan di dalamnya? Aku bisa melihat dan mendengar (dan mencium dan merasakan) banyak dari … dari … dari a-lalla-lalla-rumba-kamandalind-or-burume ini. Maafkan aku: itu sebagian dari sebutanku untuk itu; aku tidak tahu apa kata itu dalam bahasa luar: maksudku, di mana kita berada, di mana aku berdiri dan memandang pagi yang indah, dan berpikir tentang Matahari, rumput di luar hutan, kuda-kuda, awan-awan, dan penyingkapan dunia. Apa yang terjadi? Apa rencana Gandalf? Dan … burarum ini" ia membuat bunyi menderum besar, seperti bunyi sumbang pada sebuah organ besar "Orc-Orc ini, dan Saruman muda di Isengard? Aku senang berita. Tapi jangan terlalu cepat."
"Banyak yang sedang terjadi," kata Merry, "dan meski kami mencoba untuk cepat, akan makan waktu lama sekali untuk menceritakannya padamu. Tapi katamu kami jangan terburu-buru. Perlukah kami menceritakan sesuatu padamu sesegera ini? Tidak sopankah menurutmu, kalau kami bertanya apa yang akan kaulakukan dengan kami, dan pada siapa kau berpihak? Dan apakah kau kenal Gandalf?"
"Ya, aku kenal dia: satu-satunya penyihir yang benar-benar peduli pada pohon-pohon," kata Treebeard. "Kau kenal dia?"
"Ya," kata Pippin sedih, "kami kenal dia. Dia kawan yang hebat, dan waktu itu dia menjadi pemandu kami."
"Kalau begitu, aku bisa menjawab pertanyaanmu yang lain," kata Treebeard. "Aku tidak akan melakukan sesuatu pada kalian: tidak kalau yang kaumaksud melakukan sesuatu tanpa seizinmu. Mungkin kita bisa melakukan beberapa hal bersama-sama. Aku tidak tahu tentang berpihak. Aku menuruti jalanku sendiri; tapi mungkin jalanmu akan sejalan dengan jalanku untuk beberapa saat. Tapi kau bicara tentang Master Gandalf, seolah dia ada dalam cerita yang sudah berakhir."
"Ya, memang," kata Pippin sedih. "Cerita itu sendiri tampaknya masih berlanjut, tapi aku khawatir Gandalf sudah keluar dari cerita itu."
"Hoo, ah, masa!" kata Treebeard. "Huum, hm, ah ya sudah." ia berhenti, menatap kedua hobbit itu lama sekali. "Hum, ah, ya sudah, aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Masa sih?"
"Kalau kau mau mendengar lebih banyak," kata Merry, "kami akan menceritakannya padamu. Tapi akan makan waktu cukup lama. Tidakkah kau mau menurunkan kami? Tak bisakah kita duduk bersama di sini, di bawah sinar matahari, selama dia masih bersinar? Kau pasti lelah mengangkat kami terus."
"Hm, lelah? Tidak, aku tidak lelah. Aku tidak mudah lelah. Dan aku tidak duduk. Aku tidak begitu … hm … lentur. Tapi … tuh, Matahari
akan masuk. Mari kita tinggalkan … apa namanya menurutmu tadi?"
"Bukit?" usul Pippin. "Dataran? Tangga?" usul Merry.
Treebeard mengulang kata-kata itu sambil merenung. "Bukit. Ya, itu dia. Tapi itu kata yang terburu-buru untuk sesuatu yang sudah berdiri di sini sejak bagian dunia ini dibentuk. Ya sudah. Mari kita meninggalkannya, dan pergi."
"Ke mana kita akan pergi?" tanya Merry.
"Ke rumahku, atau salah satu rumahku," jawab Treebeard.
"Jauhkah itu?"
"Aku tidak tahu. Bagimu mungkin jauh, barangkali. Apakah itu penting?"
"Yah, begini … kami kehilangan semua barang kami," kata Merry, "kami hanya punya sedikit makanan."
"Oh! Hmm! Kalian tidak perlu cemas tentang itu," kata Treebeard. "Aku bisa memberi kalian minuman yang akan membuat kalian tetap hijau dan tumbuh untuk waktu sangat sangat lama. Dan kalau kita memutuskan untuk berpisah, aku bisa menurunkan kalian di luar negeriku, di mana saja kalian pilih. Mari kita pergi!"
Dengan lembut tapi erat, Treebeard memegang kedua hobbit itu, satu di lengkungan masing-masing lengannya, lalu ia mengangkat satu kakinya yang besar, kemudian yang satunya lagi, memindahkannya ke ujung dataran. Jari-jari kakinya yang seperti akar mencengkeram batubatu karang. Lalu dengan hati-hati dan khidmat ia menuruni tangga demi tangga, dan sampai ke dasar Hutan.
Segera ia berjalan dengan langkah-langkah panjang tegas melalui pepohonan, semakin dalam masuk ke hutan, tak pernah jauh dari sungai, mendaki terus lereng pegunungan. Banyak pohon tampak tertidur, atau sama sekali tidak menyadari kehadiran Treebeard, seolah ia hanyalah makhluk yang sekadar lewat; tapi beberapa ada yang gemetar, dan beberapa mengangkat dahan-dahan mereka ke atas kepala ketika ia mendekat. Sementara berjalan, ia berbicara sendiri dengan suara suara indah bagaikan musik.
Kedua hobbit diam sejenak. Anehnya, mereka merasa aman dan nyaman, dan banyak yang mereka pikirkan dan tanyakan dalam hati.
Akhirnya Pippin memberanikan diri berbicara lagi.
"Tolong, Treebeard," katanya, "bisakah aku menanyakan sesuatu? Kenapa Celeborn memperingatkan kami tentang hutanmu? Dia bilang, kami jangan mengambil risiko tersesat di dalamnya."
"Hmm, begitukah?" gumam Treebeard. "Aku juga mungkin akan mengatakan hal semacam itu, kalau kau berjalan ke arah lain. Jangan mengambil risiko tersesat di hutan Laurelind Orcnan! Itu sebutan bangsa Peri untuknya, tapi sekarang mereka memperpendek namanya: Lothlorien mereka menyebutnya. Mungkin mereka benar: mungkin dia sudah memudar, tidak tumbuh lagi. Negeri Lembah Nyanyian Emas, dulu di zaman kuno. Sekarang dia menjadi Bunga Mimpi. Ah well! Tapi itu tempat ajaib, dan tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya. Aku heran kalian bisa keluar, tapi lebih heran lagi bahwa kalian bisa masuk: itu belum pernah terjadi pada orang asing selama bertahun-tahun. Itu negeri aneh."
"Begitu juga negeri ini. Orang-orang banyak menemukan kesedihan di sini. Yah, memang begitu, kesedihan. Laurelind Orcnan lindel Orcndor malinornelion ornemalin," Treebeard bergumam pada dirinya sendiri. "Mereka di sana agak ketinggalan dari dunia, kupikir," katanya. "Baik negeri ini, maupun yang lain di luar Hutan Emas, sudah tidak seperti dulu, ketika Celeborn masih muda. Tapi:
Taurelilomea-tumbalemorna Tumbaletaurea Lomeanor. (lihat Apendiks F tentang Ent)
begitu biasanya mereka bilang. Banyak perubahan, tapi masih ada beberapa yang bertahan."
"Apa maksudmu?" kata Pippin. "Apa yang bertahan?"
"Pohon-pohon dan Ent," kata Treebeard. "Aku sendiri tak mengerti semua yang berlangsung, jadi aku tak bisa menjelaskannya padamu.
Beberapa di antara kami masih Ent sejati, dan cukup bersemangat menurut gaya kami, tapi banyak yang mulai mengantuk, jadi kepohonpohonan, bisa dibilang begitu. Kebanyakan pohon memang hanya pohon, tentu; tapi banyak yang hanya setengah terjaga. Beberapa cukup sadar, dan beberapa lagi mulai menjadi … ah, agak menyerupai Ent. Itu terjadi sepanjang waktu.
"Kalau itu terjadi pada sebatang pohon, akan kaulihat bahwa beberapa mempunyai hati yang busuk. Bukan tergantung kayunya: bukan itu maksudku. Malah aku kenal beberapa pohon willow yang baik di dekat Entwash, tapi mereka sudah hilang lama sekali, sayang! Batang mereka agak kosong, malah hampir hancur berantakan, tapi mereka tenang dan manis seperti daun muda. Lalu ada beberapa pohon di lembah di bawah pegunungan, sehat sekali, tapi berhati busuk. Hal semacam itu tampaknya menyebar. Dulu ada beberapa bagian berbahaya di negeri ini. Masih ada beberapa bercak hitam."
"Seperti Old Forest di utara sana, maksudmu?" tanya Merry.
"Ya, ya, semacam itu, tapi jauh lebih buruk. Aku tidak ragu, masih ada sedikit bayangan Kegelapan Besar di utara sana; dan ingatan ingatan buruk diwariskan. Tapi ada lembah-lembah kosong di negeri ini, di mana Kegelapan belum pernah tersingkap, dan pohon-pohonnya lebih tua bahkan daripadaku. Meski begitu, kami melakukan sebisa kami. Kami menolak pendatang asing dan yang gila-gilaan; kami melatih dan
mengajar, berjalan dan menyiangi."
"Kami gembala pohon, kami Ent-Ent tua. Hanya sedikit dari kami yang tersisa. Konon domba lambat laun menyerupai gembala, dan gembala menyerupai domba; dan dua-duanya tak punya waktu lama di dunia. Lebih cepat dan lebih dekat antara pohon dan Ent, dan mereka berjalan bersama selama berabad-abad. Karena Ent lebih seperti Peri kurang tertarik pada diri sendiri dibanding Manusia, dan lebih pintar menyusup ke dalam hal-hal lain. Meski begitu, Ent lebih seperti Manusia, lebih gampang berubah daripada Peri, dan lebih cepat menyerap warna lingkungan luar, bisa dibilang begitu. Atau lebih baik daripada keduanya: karena mereka lebih kokoh dan lebih lama memikirkan sesuatu.
"Beberapa saudaraku sekarang tampak seperti pohon, dan perlu sesuatu yang hebat untuk membangunkan mereka; mereka hanya berbicara dengan berbisik. Tapi beberapa pohonku bisa melenturkan anggota tubuhnya, dan banyak yang bisa berbicara padaku. Tentu saja itu semua dimulai oleh bangsa Peri. Peri-lah yang membangunkan pohon-pohon, mengajari mereka berbicara, dan mempelajari bahasa mereka. PeriPeri di masa lampau selalu ingin berbicara pada semuanya. Tapi kemudian Kegelapan Besar datang, dan mereka menyeberangi Samudra, atau lari ke lembah-lembah jauh, menyembunyikan diri dan membuat lagu-lagu tentang masa yang takkan pernah datang lagi. Takkan pernah. Ya, ya, dulu semuanya satu hutan, dari sini sampai ke Pegunungan Lune, dan di sini ini hanya Ujung Timur.
"Itulah masa-masa lengang! Saat itu aku bisa berjalan dan bernyanyi seharian, dan tidak mendengar suara lain kecuali gema suaraku sendiri di bukit-bukit kosong. Hutannya seperti hutan Lothlorien, hanya saja lebih tebal, kuat, dan muda. Dan harumnya udara! Aku suka menghabiskan waktu seminggu hanya bernapas saja." Treebeard kemudian diam, berjalan terus; meski begitu, langkah kakinya yang besar hampir tidak berbunyi. Lalu ia mulai bersenandung lagi, dan beralih ke dalam nyanyian yang digumamkan. Lambat laun kedua hobbit menyadari bahwa ia sedang bernyanyi untuk mereka:

Di padang pohon willow di Tasarinan, aku berjalan di Musim Semi.
Di Nan-tasarion … Ah! pemandangan dan wanginya Musim Semi! Dan aku berkata baguslah ini.
Aku menjelajahi hutan pohon elm di Ossiriand di Musim Panas.
Ah! cahaya dan musik dekat Seven Rivers di Ossir di Musim Panas! Kupikir inilah yang terbaik dan pantas.
Aku datang ke pohon pohon beech di NeldOrcth di Musim Gugur.
Ah! warna emas dan merah dan desah dedaunan di Musim Gugur di Taur-na-neldor!l Dan itu sudah melebihi hasratku.
Di antara pohon pohon cemara aku mendaki, di Musim Dingin di dataran tinggi Dorthonion.
Ah! angin dan warna putih dan dahan-dahan hitam kelam Musim Dingin di atas Orod-na-Thon! Suaraku melengking bernyanyi di awang-awang.
Dan kini semua negeri itu ada di bawah gelombang, Dan aku berjalan di Ambarona, di Tauremorna, di Aldalome, Di daratanku sendiri, di negeri Fangorn, Di mana akar-akar tumbuh memanjang, Dan tebalnya tahun melebihi tebalnya daun-daun Di Tauremornalome.

Lagunya berakhir, dan Treebeard berjalan terus dalam diam; di seluruh hutan, sejauh telinga bisa mendengar, tak ada bunyi sama sekali.
Hari semakin gelap, dan senja sudah terjalin di seputar batang-batang pepohonan. Akhirnya kedua hobbit melihat daratan curam gelap, menjulang kabur di depan mereka: mereka sudah sampai ke kaki pegunungan dan ke akar-akar hijau Methedras yang tinggi. Menuruni sisi bukit, hulu Sungai Entwash melompat keluar dari mata airnya jauh tinggi di atas, meluncur berisik dari tangga ke tangga, menyambut mereka. Di sebelah kanan sungai ada lereng panjang ditumbuhi rumput, tampak kelabu di waktu senja. Tak ada pohon tumbuh di sana, dan tempat itu terbuka ke langit; bintang-bintang sudah bersinar di danau-danau di antara pantai-pantai awan.
Treebeard mendaki lereng, hampir tidak mengurangi kecepatannya. Sekonyong-konyong kedua hobbit melihat lubang besar di depan mereka. Dua pohon besar berdiri di sana, satu di setiap sisi, seperti tiang gerbang yang hidup; tapi tak ada gerbang, kecuali dahan-dahan mereka yang saling melintang dan berjalin. Ketika Ent tua itu mendekat, pohon-pohon tersebut mengangkat dahan mereka, semua daunnya bergetar dan berdesir. Keduanya adalah pohon yang hijau abadi, dedaunan mereka gelap mengilat, bersinar-sinar dalam cahaya senja. Di balik mereka ada sebidang tanah luas dan datar, seperti lantai sebuah aula besar yang dipahat di sisi bukit. Dindingnya menjulang terjal ke atas, sampai setinggi sekitar lima puluh kaki. Di sepanjang setiap dinding berdiri jajaran pohon yang juga semakin tinggi ketika mereka masuk.
Di ujung terjauh, dinding batu karang itu curam, tapi di dasarnya ada cekungan berbentuk teluk dangkal dengan atap melengkung: satu satunya atap aula, kecuali dahan-dahan pohon yang ujung sebelah dalamnya menutupi seluruh tanah, dan hanya menyisakan jalan terbuka
lebar di tengah. Sebuah sungai kecil lolos dari mata air di atas, meninggalkan alirannya yang utama, jatuh berdenting menuruni wajah curam dinding itu, mengalir dalam tetesan perak, seperti tirai halus di depan teluk beratap lengkung. Airnya terkumpul lagi dalam sebuah mangkuk batu di tanah, di tengah pepohonan. Dari sana airnya tumpah mengalir di sisi jalan terbuka, keluar dan bergabung lagi dengan Entwash dalam perjalanannya melalui hutan.
"Hm! Ini dia!" kata Treebeard, memecah keheningannya yang lama. "Aku sudah membawa kalian sejauh sekitar tujuh puluh ribu langkah Ent, tapi bagaimana ukurannya di negeri kalian, aku tidak tahu. Bagaimanapun, kita sudah dekat kaki Gunung Terakhir. Sebagian nama tempat ini mungkin Wellinghall, kalau diganti ke dalam bahasa kalian. Aku menyukainya. Kita akan tinggal di sini malam ini." ia menurunkan mereka di atas rumput, di antara jajaran pohon; dan mereka mengikutinya ke arah atap lengkung yang besar. Sekarang kedua hobbit memperhatikan bahwa ketika Treebeard berjalan, lututnya hampir tidak melipat, tapi kakinya membuka dalam langkah besar. Ia menurunkan jarinya yang besar (memang jarinya besar, dan lebar sekali) lebih dulu ke tanah, sebelum bagian lain kakinya.
Untuk beberapa saat, Treebeard berdiri di bawah hujan sungai yang jatuh mengalir, menarik napas panjang; lalu ia tertawa, dan masuk ke dalam. Sebuah meja batu besar berdiri di sana, tanpa kursi. Di bagian belakang teluk sudah gelap. Treebeard mengangkat dua buah kendi besar dan meletakkannya di meja. Tampaknya kedua kendi itu berisi air; tapi ia meletakkan tangan di atasnya, dan segera kedua kendi itu mulai berpendar, satu dengan cahaya emas, satunya lagi dengan cahaya hijau subur; pembauran kedua cahaya itu menerangi seluruh teluk, seolah matahari musim panas bersinar di antara atap daun-daun muda. Ketika menoleh, kedua hobbit melihat pepohonan di halaman juga mulai bercahaya, mula-mula redup, tapi semakin cerah, dan akhirnya setiap tepian daun seolah berpinggiran cahaya: beberapa hijau, beberapa emas, beberapa merah seperti tembaga; sementara batang-batang pohon tampak seperti tiang-tiang yang dipahat dari batu bercahaya.
"Well, well, sekarang kita bisa bercakap-cakap lagi," kata Treebeard. "Pasti kalian sudah haus. Mungkin juga sudah letih. Minumlah ini!" ia pergi ke bagian belakang teluk. Mereka melihat ada beberapa botol batu tinggi di sana, dengan tutup yang berat. Ia membuka salah satu tutupnya, dan memasukkan sendok besar ke dalamnya, lalu mengisi tiga mangkuk, satu mangkuk besar sekali, dan dua lebih kecil.
"Ini rumah Ent," katanya, "dan tidak ada kursi, sayang sekali. Tapi kalian boleh duduk di meja." Treebeard mengangkat kedua hobbit, dan meletakkan mereka di atas bidang batu besar itu, enam kaki di atas tanah; di sanalah mereka duduk dengan kaki menjuntai, minum seteguk demi seteguk.
Minuman itu seperti air, bahkan sangat mirip rasa air yang mereka cicipi dari Entwash di dekat perbatasan hutan, tapi ada suatu aroma atau rasa di dalamnya, yang tak bisa mereka uraikan: samar-samar, tapi mengingatkan mereka kepada bau hutan yang dibawa dari jauh oleh angin sejuk di malam hari. Efek minuman itu diawali di jari kaki, dan naik secara bertahap melalui seluruh tubuh, membawa kesegaran dan daya hidup sambil mengalir ke atas, sampai ke ujung rambut. Memang kedua hobbit merasa rambut di kepala mereka benar-benar berdiri, menggeliat, melambai, dan tumbuh. Sementara itu, Treebeard mula-mula membasuh kakinya di mangkuk luar atap lengkung, lalu minum dari mangkuknya dalam satu tegukan-satu tegukan panjang dan perlahan. Kedua hobbit mengira ia takkan berhenti minum.
Akhirnya ia meletakkan kembali mangkuknya. "Ah … ah," keluhnya. "Hm, huum, sekarang kita bisa bercakap-cakap lebih mudah. Kalian bisa duduk di lantai, dan aku akan berbaring, untuk menghindari minuman ini naik ke kepalaku dan membuatku tertidur."
Di sebelah kanan teluk itu ada sebuah tempat tidur besar berkaki pendek, hanya beberapa meter tingginya, tertutup lapisan tebal rumput kering dan semacam daun pakis. Treebeard menurunkan tubuhnya perlahan-lahan ke atasnya (hanya dengan sedikit melipat bagian pinggangnya), sampai ia berbaring memanjang, dengan tangan di belakang kepala, menatap langit-langit, di mana terlihat kelipan cahaya lampu, seperti permainan dedaunan di bawah sinar matahari. Merry dan Pippin duduk di sampingnya, di atas bantal-bantal rumput.
"Sekarang ceritakan kisahmu, dan jangan buru-buru!" kata Treebeard.
Kedua hobbit mulai menceritakan kisah petualangan mereka sejak meninggalkan Hobbiton. Cerita mereka tidak berurutan, karena mereka terus-menerus saling memotong, dan Treebeard sering menghentikan si pembicara, kembali ke titik yang lebih awal, atau melompat ke depan dengan bertanya tentang kejadian di kemudian hari. Mereka sama sekali tidak menyebut-nyebut tentang Cincin, dan tidak menceritakan mengapa mereka pergi atau ke mana mereka akan pergi; Treebeard juga tidak menanyakan alasan-alasan mereka.
la sangat tertarik pada seluruh cerita mereka: pada Penunggang Hitam, Elrond, dan Rivendell, pada Old Forest dan Tom Bombadil, pada Tambang Moria, Lothlorien, dan Galadriel. ia meminta mereka menjelaskan tentang Shire dan daratannya berkali-kali. Pada titik itu, ia mengatakan sesuatu yang aneh. "Kau pernah melihat … hm … Ent di sekitar Shire?" tanyanya. "Yah, bukan Ent, mungkin aku harus bilang Entwives."
"Entwives?" kata Pippin. "Apakah mereka serupa denganmu?"
"Ya, well, sebenarnya tidak: aku sebenarnya tidak tahu persis," kata Treebeard sambil merenung. "Tapi mereka pasti menyukai negerimu, jadi aku bertanya-tanya." Meski begitu, Treebeard terutama sangat tertarik pada semua yang menyangkut Gandalf, serta perbuatan-perbuatan Saruman. Kedua hobbit
menyesal sekali hanya tahu sedikit tentang kedua penyihir itu; hanya sepotong laporan yang tidak begitu jelas dari Sam, tentang apa yang diceritakan Gandalf pada Dewan Penasihat. Tapi setidaknya mereka tahu pasti bahwa Ugluk dan pasukannya datang dari Isengard dan menyatakan Saruman sebagai majikan mereka.
"Hm, huum!" kata Treebeard, ketika akhirnya kisah mereka mengalir dan mengembara sampai ke pertempuran pasukan Orc dengan para Penunggang Kuda Rohan. "Wah, wah, itu berita hebat, dan tidak salah lagi. Kalian belum menceritakan semuanya padaku, masih banyak yang belum. Tapi aku tidak ragu bahwa kalian sudah bertindak sesuai keinginan Gandalf. Ada peristiwa yang sangat besar sedang terjadi, entah apa, mungkin pada saatnya aku akan tahu. Demi akar dan ranting, tapi ini urusan aneh: muncul bangsa kecil yang tidak ada di dalam daftar-daftar lama, dan lihat! Sembilan Penunggang yang sudah dilupakan muncul kembali untuk memburu mereka, Gandalf membawa mereka dalam perjalanan besar, Galadriel menyembunyikan mereka di Caras Galadhon, dan Orc-Orc mengejar mereka sampai sepanjang Belantara: memang tampaknya mereka terlibat badai besar. Kuharap mereka dapat bertahan."
"Dan bagaimana tentang dirimu sendiri?" tanya Merry.
"Huum, hm, aku tidak memedulikan Perang Besar," kata Treebeard, "itu kebanyakan melibatkan bangsa Peri dan Manusia. Itu urusan para Penyihir: Penyihir-penyihir selalu khawatir tentang masa depan. Aku tidak suka memikirkan masa depan. Aku tidak sungguh-sungguh ada di salah satu pihak, sebab tidak ada yang benar-benar ada di pihakku, kalau kalian paham: tidak ada yang sepeduli aku pada hutan, tidak juga bangsa Peri sekarang ini. Tapi aku masih lebih menyukai bangsa Peri daripada yang lain: bangsa Peri-lah yang dulu menyembuhkan kami dari kebisuan, dan itu pemberian hebat yang tak bisa dilupakan, meski sejak itu kami berpisah jalan. Ada juga beberapa hal, tentu saja, yang sama sekali tidak kudukung: itu lho … burarum (sekali lagi ia menderum keras, pertanda jijik) "… Orc-Orc itu, dan majikan mereka."
"Dulu aku biasanya cemas kalau bayang-bayang gelap menggantung di atas Mirkwood, tapi ketika bayang-bayang itu beralih ke Mordor, untuk sementara aku tidak khawatir: Mordor masih jauh sekali dari sini. Tapi rupanya kemudian angin datang dari Timur, dan layunya hutanhutan mungkin sudah dekat. Tidak ada yang bisa dilakukan Ent tua untuk menahan badai itu: dia harus bertahan atau hancur."
"Tapi Saruman! Saruman tetangga kami: aku tak bisa mengabaikannya. Aku harus melakukan sesuatu, kukira. Akhir-akhir ini aku sering bertanya dalam hati, apa yang harus kulakukan tentang Saruman."
"Siapa Saruman?" tanya Pippin. "Apa kau tahu sesuatu tentang riwayatnya?"
"Saruman seorang Penyihir," jawab Treebeard. "Lebih dari itu tak bisa kukatakan. Aku tidak tahu riwayat kaum Penyihir. Mereka muncul pertama kali setelah Kapal-Kapal Besar datang dari Samudra; tapi apakah mereka datang bersama-sama kapal-kapal itu, aku tidak tahu.
Saruman termasuk yang terhebat di antara mereka, kukira. Dia berhenti mengembara dan mengurusi masalah Manusia dan Peri, beberapa waktu yang lalu sudah sangat lama, menurut ukuran waktu kalian; dan dia menetap di Angrenost, atau Isengard, nama yang diberikan OrangOrang Rohan. Mulanya dia tidak banyak tingkah, tapi kemudian ketenarannya mulai berkembang. Konon dia terpilih menjadi Ketua Dewan Penasihat Putih; tapi rupanya hasilnya tidak memuaskan. Sekarang aku jadi bertanya-tanya, apakah pada saat itu Saruman sudah mulai jahat.
Tapi setidaknya dia tidak menyulitkan tetangga-tetangganya. Aku biasa bercakap-cakap dengannya. Dulu dia suka berjalan jalan di hutanku.
Dia sopan sekali di masa itu, selalu meminta izinku (setidaknya kalau bertemu denganku), dan selalu bergairah untuk mendengarkan. Aku menceritakan banyak hal yang tak mungkin bisa ditemukannya sendiri; tapi dia tak pernah memberiku balasan serupa. Seingatku dia tak pernah menceritakan apa pun padaku. Dan dia semakin berubah seperti itu; wajahnya, seingatku aku sudah lama tidak melihatnya jadi seperti jendela di dinding batu: jendela dengan kerai-kerai di bagian dalam."
"Rasanya sekarang aku mengerti rencananya. Dia merencanakan untuk menjadi suatu Kekuatan. Benaknya seperti terbuat dari logam dan roda; dan dia tak peduli pada makhluk-makhluk yang tumbuh, kecuali sejauh mereka bisa melayaninya untuk saat ini. Sekarang sudah jelas dia seorang pengkhianat jahat. Dia sudah bergabung dengan bangsa busuk, dengan kaum Orc. Brm, huum! Lebih buruk lagi: dia sudah melakukan sesuatu pada mereka; sesuatu yang berbahaya. Karena Orc-Orc Isengard ini lebih menyerupai Manusia keji. Makhluk-makhluk jahat yang datang bersama Kegelapan Besar tidak tahan terhadap Matahari; tapi Orc-Orc Saruman bisa bertahan di bawah sinar matahari, meskipun mereka membencinya. Aku heran, apa gerangan yang sudah dilakukannya? Apakah mereka Manusia yang dirusaknya, atau dia mencampurkan bangsa Orc dengan Manusia? Itu sihir hitam!" Treebeard menggeram sejenak, seolah mengucapkan kutukan Ent bawah tanah. "Beberapa waktu yang lalu, aku sudah heran mengapa para Orc berani melewati hutan-hutanku dengan bebas," lanjutnya. "Baru akhir-akhir ini aku menduga Saruman-lah penyebabnya, bahwa sudah lama sekali dia memata-matai semua jalan, dan menemukan semua rahasiaku. Dia dan anak buahnya yang busuk sekarang menimbulkan malapetaka. Di dekat perbatasan, mereka menebangi pohon-pohon-pohon bagus. Beberapa di antaranya mereka tebang dan biarkan membusuk-itu ulah para Orc; tapi kebanyakan dipotong-potong dan diangkut untuk bahan bakar api di Orthanc. Selalu ada asap naik dari Isengard akhir-akhir ini."
"Terkutuklah dia, akar dan ranting! Banyak dari pohon-pohon itu adalah kawan-kawanku, makhluk-makhluk yang sudah kukenal sejak masih biji; banyak yang mempunyai suara sendiri, yang sekarang sudah hilang untuk selamanya. Dan ada bekas-bekas tunggul dan semak di mana dulu berdiri hutan kecil yang bernyanyi. Aku sudah terlalu lama menganggur. Aku sudah membiarkan malapetaka ini terjadi. Ini harus dihentikan!"
Treebeard bangkit dari tempat tidurnya dengan sentakan mendadak, lalu berdiri dan memukulkan tangannya ke meja. Kendi-kendi cahaya bergetar dan menyemburkan dua semprotan api. Ada kilatan seperti api hijau dalam mata Treebeard, janggutnya berdiri kaku seperti sapu kayu besar.
"Aku akan menghentikannya!" ia menderum. "Dan kalian akan pergi bersamaku. Kalian mungkin bisa membantuku. Dengan demikian, kalian membantu kawan-kawan kalian juga. Kalau Saruman tidak dibendung, Rohan dan Gondor akan punya musuh di belakang maupun di depan. Jalan kita searah ke Isengard!"
"Kami akan pergi bersamamu," kata Merry. "Kami akan berusaha sebisa kami."
"Ya!" kata Pippin. "Aku ingin melihat Tangan Putih ditaklukkan. Aku ingin berada di sana, meski seandainya aku tidak banyak berguna: aku tidak akan pernah melupakan Ugluk dan perlintasan daratan Rohan."
"Bagus! Bagus!" kata Treebeard. "Tapi aku berbicara terburu-buru. Kita tak boleh tergesa-gesa. Hatiku terlalu panas. Aku harus mendinginkan diriku dan berpikir; sebab lebih mudah berteriak berhenti daripada melakukannya." Ia melangkah ke gerbang dan berdiri sesaat di bawah tetesan hujan dan mata air. Lalu ia tertawa dan mengguncangkan badan; tetes-tetes air berkilauan, yang jatuh ke tanah dan tubuhnya, berkelap-kelip bagai bunga-bunga api merah dan hijau. Treebeard membaringkan diri lagi ke tempat tidur, dan berbaring diam.
Setelah beberapa saat, kedua hobbit mendengarnya bergumam lagi. Rupanya ia sedang menghitung dengan jarinya. "Fangorn, Finglas, Fladrif, ya, ya," keluhnya. "Masalahnya, hanya sedikit dan kami yang tersisa," katanya kepada para hobbit. "Hanya tiga tersisa dari Ent-Ent pertama yang berjalan di hutan sebelum Kegelapan: hanya aku sendiri, Fangorn, dan Finglas serta Fladrif itulah nama mereka dalam bahasa Peri; kalian bisa menyebut mereka Leaflock dan Skinbark kalau mau. Dari antara kami bertiga, Leaflock dan Skinbark tidak banyak berguna dalam urusan ini. Leaflock sudah mulai terkantuk-kantuk, hampir menyerupai pohon, bisa dibilang begitu: dia sekarang biasa berdiri sendiri setengah tertidur sepanjang musim panas, dengan rumput-rumput tinggi di padang mengitari lututnya. Dia sudah tertutup rambut seperti dedaunan. Dulu biasanya dia bangun di musim dingin, tapi belakangan ini dia terlalu mengantuk untuk bisa berjalan jauh. Skinbark dulu tinggal di lereng-lereng pegunungan sebelah barat Isengard. Di sanalah dulu terjadi bencana paling buruk. Dia dilukai Orc-Orc, banyak anak buahnya dan gembala pohonnya dibunuh dan dihancurkan. Dia sudah pergi ke tempat-tempat tinggi, di antara pohon-pohon birch yang paling disukainya, dan tidak mau turun. Tapi berani kupastikan aku bisa mengumpulkan cukup banyak kaum muda kami kalau aku bisa membuat mereka memahami kebutuhan kami: kalau aku bisa membangkitkan semangat mereka: kami bukan bangsa yang tergesa-gesa.
Sayang sekali, hanya sedikit dari kami yang tersisa".
"Kenapa hanya ada sedikit, kalau kau sudah begitu lama hidup di negeri ini?" tanya Pippin. "Apakah sudah banyak sekali yang mati?"
"Oh, tidak!" kata Treebeard. "Tidak ada yang mati di bagian dalam, bisa dikatakan begitu. Beberapa sudah jatuh dalam bencana tahun-tahun yang panjang, tentu; dan banyak lagi yang sudah mulai menyerupai pohon. Tapi memang jumlah kami tak pernah banyak, dan kami tidak berkembang biak. Tidak ada Enting tidak ada anak-anak, seperti istilah kalian, dan sudah sangat lama sekali. Itu terjadi karena kami kehilangan Entwives!"
"Menyedihkan!" kata Pippin. "Bagaimana kisahnya sampai mereka semua mati?"
"Mereka tidak mati!" kata Treebeard. "Aku tidak pernah bilang mati. Kami kehilangan mereka, dan tak bisa menemukan mereka." ia mengeluh. "Kukira kebanyakan orang tahu tentang itu. Ada lagu-lagu tentang perburuan Entwives oleh Ent-Ent, yang dinyanyikan oleh Peri dan Manusia dari Mirkwood sampai ke Gondor. Mestinya lagu-lagu itu belum sepenuhnya terlupakan."
"Well, aku khawatir lagu-lagu itu tidak datang ke barat, melintasi Pegunungan, masuk ke Shire," kata Merry. "Tidakkah kau mau menceritakan lebih banyak, atau menyanyikan salah satu lagu itu?"
"Ya, akan kulakukan, terima kasih," kata Treebeard, tampak puas dengan permintaan itu. "Tapi aku tak bisa menceritakannya dengan lengkap, hanya singkat saja; lalu kita harus mengakhiri percakapan: besok kita harus mengadakan rapat, dan ada tugas yang harus dikerjakan, dan mungkin kita harus memulai perjalanan."
"Kisah yang akan kuceritakan ini agak aneh dan sedih," lanjut Treebeard setelah diam sebentar. "Ketika dunia masih muda, hutan-hutan masih luas dan liar, para Ent dan Entwives dan pada masa itu ada Entmaidens, gadis-gadis Ent: ah! kecantikan Fimbrethil, Wandlimb yang berkaki ringan, di masa muda kami! mereka berjalan bersama dan tinggal bersama. Tapi hati kami tidak terus tumbuh searah: para Ent memberikan kasih sayang mereka pada hal-hal yang mereka temukan di dunia, sementara Entwives memikirkan hal-hal lain. Para Ent mencintai pohon-pohon besar, hutan-hutan liar, dan lereng-lereng perbukitan yang tinggi; mereka minim dari sungai-sungai pegunungan, dan hanya makan buah-buahan yang dijatuhkan pepohonan di jalan mereka; mereka belajar dari bangsa Peri dan berbicara dengan Pohon-Pohon.
Tapi Entwives memusatkan perhatian pada pohon-pohon yang lebih kecil, dan pada padang-padang di bawah sinar matahari, di luar kaki hutan-hutan; mereka melihat buah sloe di gerumbulan, apel liar serta ceri mekar di musim semi, tanaman-tanaman hijau di daratan berair di musim panas, dan rumput yang disemai di ladang-ladang musim gugur. Mereka tidak berhasrat berbicara dengan tanaman-tanaman ini, tapi
mereka ingin tanaman-tanaman itu mendengarkan mereka dan menaati apa kata mereka. Entwives memerintahkan mereka tumbuh sesuai keinginan mereka, dan menumbuhkan daun dan buah sesuai kesukaan mereka; Entwives menyukai ketertiban, kemakmuran, dan kedamaian (yang berarti bahwa benda-benda harus tetap berada di tempat mereka diletakkan). Maka Entwives membuat kebun-kebun untuk tinggal.
Tapi kami kaum Ent terus mengembara, dan hanya sesekali mampir di kebun-kebun itu. Lalu, ketika Kegelapan datang di Utara, Entwives menyeberangi Sungai Besar, membuat kebun-kebun baru, dan bercocok tanam di ladang-ladang baru, dan kami semakin jarang melihat mereka. Setelah Kegelapan ditaklukkan, daratan Entwives berkembang subur, dan ladang-ladang mereka penuh jagung. Banyak Manusia mempelajari keterampilan Entwives dan sangat menghormati mereka; tapi kami hanya merupakan legenda bagi mereka, suatu rahasia jauh di jantung hutan. Meski begitu, kami masih berada di sini, sementara semua kebun Entwives sudah hancur: Manusia sekarang menyebutnya NegeriNegeri Cokelat.
"Aku ingat zaman dulu di masa peperangan antara Sauron dengan Manusia dan Samudra aku dihinggapi hasrat untuk bertemu lagi dengan Fimbrethil. Dia masih sangat cantik di mataku, ketika terakhir aku melihatnya, meski tidak mirip Entmaiden dari masa lampau. Entwives menjadi bungkuk dan kecokelatan karena pekerjaan mereka; rambut mereka kering kena sinar matahari, hingga berwarna jagung matang, dan pipi mereka seperti apel merah. Meski begitu, mata mereka masih mata bangsa kami sendiri. Kami menyeberangi Anduin dan sampai di negeri mereka, tapi yang kami temukan hanyalah gurun pasir: semuanya terbakar dan tumbang, rusak oleh perang. Tetapi Entwives tidak ada di sana. Lama sekali kami memanggil, lama pula kami mencari; kami menanyai semua bangsa yang kami jumpai, ke mana Entwives pergi.
Beberapa mengatakan belum pernah melihat mereka; beberapa mengatakan melihat mereka berjalan pergi ke arah barat, beberapa mengatakan ke timur, dan beberapa mengatakan ke selatan. Tapi ke mana pun kami mencari, kami tak bisa menemukan mereka. Kesedihan kami sangat besar. Meski begitu, hutan belantara memanggil, dan kami kembali ke sana. Selama bertahun-tahun, kami sesekali pergi untuk mencari Entwives, berjalan jauh dan memanggil mereka dengan nama-nama mereka yang indah. Tapi dengan berlalunya waktu, kami semakin jarang pergi dan tidak mengembara jauh lagi. Kini Entwives tinggal kenangan bagi kami, dan janggut kami sudah panjang dan kelabu. Bangsa Peri membuat banyak lagu tentang Pencarian kaum Ent, dan beberapa lagu itu dialihkan ke dalam bahasa Manusia. Kami sendiri tidak membuat lagu tentang itu; kami sudah puas menyanyikan nama-nama mereka yang indah kala kami memikirkan mereka. Kami percaya, suatu saat kami akan bertemu lagi dengan mereka, dan mungkin kami akan menemukan suatu negeri, di suatu tempat, di mana kami bisa hidup bersama dan sama-sama puas. Tapi sudah diramalkan bahwa itu baru terjadi kalau kami sudah kehilangan semua yang kami miliki sekarang. Dan mungkin sekali saat itu sudah dekat. Sebab, kalau dulu Sauron menghancurkan kebun-kebun, maka musuh saat ini tampaknya akan menghancurkan hutan-hutan."
"Ada sebuah lagu Peri yang mengungkapkan hal ini, atau setidaknya begitulah yang kutangkap. Biasanya dinyanyikan bila melintasi Sungai Besar. Bukan lagu Ent, bukan: dalam bahasa Ent akan menjadi lagu yang sangat panjang! Tapi kami hafal lagu itu, dan sesekali menyenandungkannya. Begini bunyinya dalam bahasa kalian:"

ENT: Ketika Musim Semi menyingkap dedaunan, dan getah segar mengalir dalam tiap dahan; Ketika cahaya menerangi sungai di hutan, dan angin berembus perlahan; Ketika kaki melangkah panjang, napas dihirup dalam-dalam, dan udara pegunungan sejuk nyaman, Kembalilah padaku! Kembalilah padaku, dan katakan negeriku indah nian!
ENTWIFE: Ketika Musim Semi datang ke kebun dan ladang, dan jagung sudah berbuah rimbun; Ketika bunga-bunga mekar seperti sa ju bersinar memenuhi kebun; Ketika hujan dan Matahari di atas Bumi dengan udara semerbak wangi, Aku 'kan tetap di sini dan takkan pergi, karena negeriku indah, indah sekali.
ENT: Ketika Musim Panas datang ke dunia, pada siang hari yang kemilau gemerlap.
Di bawah atop dedaunan yang nyenyak, mimpi-mimpi pepohonan pun tersingkap; Ketika relung-relung hutan menghijau sejuk, dan angin pun ada di Barat sana Kembalilah padakul Kembalilah padaku dan katakan negeriku paling hebat memesona!
ENTWIFE: Ketika Musim Panas menghangatkan buah-buahan yang menggantung dan mematangkan buah beri hingga cokelat; Ketika jerami berwarna keemasan, bulir-bulir jagung memutih, dan panen sudah dekat;
Ketika madu tumpah-ruah, dan apel pun ranum masak, meski angin ada di Barat, Aku 'kan tetap di sini, di bawah Matahari, kar'na negeriku terbaik penuh berkat!
ENT: Ketika Musim Dingin datang, musim dingin liar yang membantai bukit dan hutan; Ketika pepohonan tumbang dan malam tak berbintang melahap pagi tanpa mentari; Ketika angin di Tamur meniupkan napas maut; maka dalam hujan yang pahit berduri Aku 'kan mencarimu, dan memanggilmu; aku 'kan datang lagi padamu dengan berlari!
ENTWIFE: Ketika Musim dingin tiba, dan nyanyianpun tamat; dan kegelapan datang menjerat; Ketika dahan yang gersang sudah patah, dan cahaya serta kerja keras sudah kelewat penat; Aku 'kan mencarimu, dan menunggumu, sampai kita bertemu di bawah langit; Bersama-sama kita 'kan menapaki jalan di bawah curah hujan yang pahit!
BERDUA: Bersama-sama kita akan melangkah menuju Barat, Dan, nun di sana, 'kan kita temukan negeri di mana hati kita 'kan tenang bertambat.

Treebeard mengakhiri nyanyiannya. "Begitulah lagunya," katanya. "Lagu bangsa Peri, tentu ringan, dengan kata-kata singkat, dan cepat selesai. Bisa kukatakan lagu itu cukup bagus. Sebenarnya kaum Ent bisa menceritakan lebih banyak, kalau waktunya cukup! Tapi sekarang aku akan berdiri dan tidur sebentar. Di mana kalian akan berdiri?"
"Kami biasanya berbaring untuk tidur," kata Merry. "Kami cukup nyaman di tempat kami sekarang."
"Berbaring untuk tidur!" kata Treebeard. "Tentu saja, begitulah cara kalian! Hm, huum: aku sudah lupa: menyanyikan lagu itu membuatku merasa berada di masa lalu lagi; tadi hampir-hampir kukira aku sedang berbicara pada Enting-Enting muda, begitu. Well, kalian boleh berbaring di tempat tidur. Aku akan berdiri di bawah hujan. Selamat malam!" Merry dan Pippin naik ke tempat tidur, meringkuk ke dalam rumput dan daun pakis lembut. Rasanya segar, wangi, dan hangat. Cahaya meredup, begitu pula sinar dari pepohonan; tapi di luar, di bawah lengkungan, mereka bisa melihat Treebeard berdiri tak bergerak, tangannya diangkat ke atas kepala. Bintang-bintang mengintip dari langit, menyinari pancuran air ketika tumpah ke atas jari dan kepala Treebeard, dan menetes, menetes dalam ratusan tetes perak ke kakinya. Sambil mendengarkan denting tetesan air, kedua hobbit itu tertidur.
Ketika bangun, mereka mendapati matahari sejuk menyinari halaman yang luas dan lantai teluk. Serpihan awan tinggi melayang di atas, mengalir ditiup angin timur. Treebeard tidak tampak, tapi ketika Merry dan Pippin mandi di mangkuk dekat lengkungan, mereka mendengamya bersenandung dan bernyanyi, saat ia melangkah mendaki jalan di tengah pepohonan.
"Hoo, ho! Selamat pagi, Merry dan Pippin!" ia berseru nyaring ketika melihat mereka. "Kalian tidur lama sekali. Aku sudah berjalan ratusan langkah hari ini. Sekarang kita akan minum, dan pergi ke Entmoot." Ia menuangkan untuk mereka dua mangkuk penuh dari sebuah botol batu; tapi dari botol yang lain. Rasanya tidak sama dengan yang semalam: yang ini lebih membumi dan lebih kaya, lebih bergizi dan lebih menyerupai makanan, bisa dibilang begitu. Kedua hobbit minum sambil duduk di ujung tempat tidur, dan mengunyah remah-remah kecil kue Peri (bukan karena lapar, tapi lebih karena merasa saat sarapan, mereka memang perlu makan). Sementara itu, Treebeard berdiri, bersenandung dalam bahasa Ent atau Peri, atau bahasa asing lain, dan menengadah melihat langit.
"Di mana Entmoot?" Pippin memberanikan diri bertanya.
"Hoo, eh! Entmoot?" kata Treebeard sambil membalikkan badan. "Itu bukan tempat, itu acara kumpul-kumpul para Ent yang jarang terjadi sekarang ini. Tapi aku sudah berhasil membuat sejumlah Ent berjanji untuk datang. Kami akan bertemu di tempat biasanya: Demdingle, begitu Manusia menamakannya. Dari sini ke arah selatan letaknya. Kita harus berada di sana sebelum tengah hari." Tak lama kemudian, mereka berangkat. Treebeard menggendong kedua hobbit dengan lengan-lengannya, seperti hari sebelumnya. Di tempat masuk ke halaman, ia membelok ke kanan, melangkahi sungai, dan berjalan ke arah selatan, menyusuri kaki lereng-lereng besar yang jarang ditumbuhi pepohonan. Di atas ini, kedua hobbit melihat gerombolan pohon birch dan rowan, dan di luarnya hutan-hutan cemara gelap yang mendaki. Segera Treebeard agak menyimpang dari perbukitan, masuk ke alur-alur dalam, di mana pepohonannya lebih besar, lebih tinggi, dan lebih rapat daripada yang dilihat hobbit-hobbit itu sebelumnya. Untuk beberapa saat, samar-samar mereka merasa tercekik, seperti ketika pertama kali masuk ke dalam Fangorn, tapi itu segera berlalu. Treebeard tidak mengajak mereka berbicara. Ia bersenandung sendiri sambil
merenung, tapi Merry dan Pippin tidak menangkap kata-kata jelas: bunyinya seperti bum, bum, rambum, burar, bum, bum, dahrar bum bum, dahrar bum, begitu seterusnya, dengan perubahan nada dan irama yang tetap. Sesekali mereka merasa mendengar jawaban, dengungan, atau getaran bunyi, yang seolah keluar dan dalam bumi, atau dari dahan-dahan di atas kepala mereka, atau mungkin dan batang-batang pohon; tapi Treebeard tidak berhenti atau menoleh kiri-kanan.
Mereka sudah berjalan lama sekali Pippin mencoba menghitung "langkah-langkah Ent", tapi gagal, kehilangan hitungan saat sudah mencapai sekitar tiga ribu ketika Treebeard mulai meredam kecepatannya. Mendadak ia berhenti, menurunkan kedua hobbit, dan mengangkat kedua tangan ke mulutnya, membentuk corong, lalu meniup atau memanggil melaluinya. Bunyi hum, hom nyaring seperti terompet besar mendengung di dalam hutan, dan seolah bergema dan pepohonan. Dan jauh, dari beberapa arah berbeda, datang bunyi hum, hom, hum yang serupa, tapi bukan gema, melainkan jawaban.
Sekarang Treebeard meletakkan Merry dan Pippin di pundaknya dan berjalan lagi, sesekali mengeluarkan panggilan terompet lagi, dan setiap kali jawabannya datang lebih jelas dan lebih dekat. Akhirnya mereka sampai ke suatu tempat yang tampak seperti tembok pepohonan evergreen yang tak bisa ditembus, pepohonan dari jenis yang belum pernah dilihat kedua hobbit: bercabang langsung darii akar-akar mereka, dan tertutup rapat oleh dedaunan gelap mengilap yang tampak seperti holly tanpa duri, dipenuhi benang sari bunga-bunga yang menjulang kaku, dengan kuntum-kuntum besar mengilap berwarna hijau zaitun.
Treebeard membelok ke kiri dan mengitari pagar besar ini; dalam beberapa langkah, ia sampai ke sebuah gerbang sempit. Di baliknya ada sebuah jalan yang tiba-tiba terjun menuruni lereng curam yang Panjang. Kedua hobbit melihat mereka sedang turun ke sebuah lembah besar, hampir bulat seperti mangkuk, sangat lebar dan dalam, pinggirannya bermahkotakan pagar besar tinggi berupa pohon-pohon evergreen. Di dalamnya, tanahnya mulus dan berumput, tak ada pohon kecuali tiga pohon silver-birch tinggi dan indah yang berdiri di dasar lembah. Ada dua jalan lain masuk ke dalam lembah: dari barat dan timur.
Beberapa Ent sudah tiba. Lebih banyak lagi sedang menuruni jalan jalan lain, dan beberapa sekarang mengikuti Treebeard. Ketika mereka mendekat, kedua hobbit memandang mereka. Mereka mengira akan melihat makhluk-makhluk yang serupa dengan Treebeard, seperti satu hobbit mirip hobbit yang lain (setidaknya bagi mata orang asing); dan mereka sangat heran karena tidak melihat hal semacam itu. Para Ent itu sangat berbeda satu sama lain, seperti pohon dengan pohon: beberapa berbeda seperti pohon yang sejenis, tapi dengan pertumbuhan dan riwayat berbeda; dan beberapa berbeda seperti jenis pohon yang berlainan, seperti pohon birch dengan pohon beech, pohon ek dengan pohon cemara. Ada beberapa Ent yang lebih tua, berjanggut dan benjol-benjol seperti pohon sehat, tapi tua sekali (meski tidak ada yang kelihatan setua Treebeard); dan ada Ent-Ent tinggi kuat, dengan tubuh mulus dan kulit halus, seperti pepohonan hutan yang masih muda; tapi tidak ada Ent-Ent muda, tidak ada anak-anak pohon. Seluruhnya ada sekitar dua lusin Ent berdiri di bentangan rumput lembah itu, dan masih banyak lagi yang berdatangan.
Pada mulanya, Merry dan Pippin terutama tercengang oleh keanekaragaman yang mereka lihat: aneka rupa bentuk, warna, perbedaan ukuran lilitan, tinggi, panjang tangan dan kaki, serta jumlah jari kaki dan tangan (antara tiga sampai sembilan). Beberapa kelihatannya bersaudara dengan Treebeard, dan mengingatkan mereka pada pohon-pohon beech atau ek. Tapi ada juga jenis lain. Beberapa mengingatkan pada pohon kastanya: Ent-Ent berkulit cokelat, dengan tangan-tangan besar berjari renggang dan kaki gemuk pendek. Beberapa mengingatkan pada pohon ash: Ent-Ent tinggi tegak dan kelabu, dengan tangan berjari banyak dan kaki panjang; beberapa seperti cemara (Ent-Ent yang paling tinggi), dan yang lain seperti birch, rowan, dan linden. Tapi ketika semua Ent berkumpul di sekitar Treebeard agak menundukkan kepala, bergumam dengan suara perlahan bernada musik, sambil memandang lama dan tajam pada kedua pendatang asing itu baru kedua hobbit melihat bahwa mereka semua berasal dari rumpun yang sama, dengan mata yang sama: tidak semua mata mereka setua atau sedalam mata Treebeard, tapi semuanya memancarkan ekspresi lamban, kokoh, dan merenung yang sama, juga kelipan sinar hijau yang sama.
Setelah seluruh rombongan terkumpul, berdiri dalam lingkaran besar mengelilingi Treebeard, percakapan yang aneh dan tidak jelas pun dimulai. Para Ent mulai bergumam perlahan: mula-mula satu bergabung, lalu yang lain, sampai mereka semua bernyanyi bersama dengan irama panjang naik-turun, kadang lebih keras di salah satu sisi lingkaran, kadang reda di sana, dan naik menjadi dentuman besar di sisi lain.
Meski tak bisa menangkap atau mengerti satu pun kata yang diucapkan ia menduga itu bahasa Ent _ Pippin menganggap bunyinya sangat enak didengar, pada mulanya; tapi lambat laun perhatiannya goyah.
Setelah waktu lama (dan nyanyian itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat), ia bertanya-tanya dalam hati: berhubung bahasa Ent adalah bahasa yang "tidak tergesa-gesa", jangan jangan mereka baru sampai pada tahap mengucapkan Selamat Pagi; dan bila Treebeard mengabsen semuanya, perlu waktu berapa hari untuk menyanyikan semua nama mereka? "Aku ingin tahu, apa kata dalam bahasa Ent untuk menyatakan ya atau tidak," pikir Pippin. ia menguap.
Treebeard segera memperhatikannya. "Hm, ha, hai, Pippin-ku!" katanya, dan semua Ent yang lain menghentikan nyanyian mereka. "Aku lupa, kalian bangsa yang terburu-buru; tapi memang sangat menjemukan mendengarkan percakapan yang tidak kalian pahami. Kalian boleh turun sekarang. Aku sudah memberitahukan nama-nama kalian pada Entmoot, mereka sudah melihat kalian, dan mereka setuju kalian bukan Orc, jadi sebuah baris baru akan ditambahkan ke dalam daftar lama. Kami baru sampai sejauh itu, tapi ini sudah termasuk cepat untuk sebuah
Entmoot. Kau dan Merry boleh berjalan jalan di sekitar lembah ini, kalau mau. Ada sebuah sumur air yang bagus, kalau kalian perlu menyegarkan diri, di sana di tebing utara. Masih ada beberapa kata yang perlu diucapkan sebelum Moot benar-benar dimulai. Aku akan datang menemui kalian lagi, dan menceritakan perkembangannya." Ia menurunkan kedua hobbit. Sebelum berjalan pergi, mereka membungkuk rendah. Tingkah itu rupanya sangat menggelikan bagi para Ent, kentara dari nada gumam dan binar-binar mata mereka; tapi mereka segera kembali ke urusan mereka sendiri. Merry dan Pippin mendaki jalan yang masuk dari sebelah barat, dan memandang keluar melalui lubang dalam pagar. Lereng-lereng panjang yang ditumbuhi pepohonan menjulang dari bibir lembah, dan jauh di luar sana, di atas pohon-pohon cemara di punggung terjauh, menjulang puncak sebuah gunung tinggi, tajam, dan putih. Ke arah selatan di sisi kiri mereka, tampak hutan yang memudar dalam kejauhan yang kelabu. Jauh di sana ada sinar hijau pucat yang diduga Merry merupakan padang-padang Rohan.
"Di mana kira-kira Isengard?" kata Pippin.
"Aku tidak tahu persis, kita ada di mana," kata Merry, "tapi puncak itu mungkin Methedras, dan sejauh yang kuingat, lingkaran Isengard terletak di sebuah belahan dalam di ujung pegunungan. Mungkin di bawah, di balik punggung besar ini. Tampaknya ada asap atau kabut di sana, di sebelah kiri puncak, bukankah begitu?"
"Seperti apakah Isengard?" kata Pippin. "Aku bertanya-tanya, apa yang bisa dilakukan para Ent terhadapnya?"
"Aku juga berpikir begitu," kata Merry. "Isengard itu kan semacam lingkaran batu karang atau perbukitan, dengan sebidang tanah datar di tengahnya, dan sebuah pulau atau batu karang di tengah, yang disebut Orthanc. Saruman mempunyai sebuah menara di atasnya. Di sana ada gerbang, mungkin lebih dari satu, di dinding yang mengelilingi, dan kalau tidak salah ada sungai mengalir di tengahnya; bersumber dari pegunungan dan mengalir terus melintasi Celah Rohan. Kelihatannya bukan jenis tempat yang layak ditangani para Ent. Tapi aku punya perasaan aneh tentang para Ent ini: entah bagaimana, menurutku mereka tidak seaman dan selucu tampaknya. Mereka kelihatan lamban, aneh, sabar, hampir-hampir sedih; tapi aku percaya kemarahan mereka bisa dibangkitkan. Kalau itu terjadi, aku lebih baik tidak berada di pihak lawan mereka."
"Ya!" kata Pippin. "Aku tahu maksudmu. Mungkin saja mereka kelihatannya seperti seekor sapi tua yang duduk mengunyah sambil merenung, tapi mendadak mengamuk seperti banteng yang menyeruduk; dan perubahan itu bisa terjadi mendadak. Aku ingin tahu, apakah Treebeard bisa membangkitkan semangat mereka. Aku yakin dia berniat mencoba. Tapi mereka tak suka dibangkitkan. Treebeard sendiri juga bangkit amarahnya tadi malam, lalu dia menekannya lagi." Kedua hobbit kembali lagi. Suara-suara Ent masih terdengar naik-turun di pertemuan mereka. Matahari kini sudah naik cukup tinggi untuk mengintip dari atas pagar: menyinari puncak-puncak pohon birch dan sisi utara lembah dengan cahaya sejuk kekuningan. Di sana mereka melihat sebuah air mancur kecil gemerlapan. Mereka berjalan menyusuri pinggir lembah, di kaki pohon-pohon evergreen, nikmat sekali merasakan rumput sejuk di bawah kaki mereka lagi, dan tak usah terburu-buru lalu mereka turun ke air yang menyembur itu. Mereka minum sedikit, cairan bersih, dingin, dan tajam, dan mereka duduk di atas sebuah batu berlumut, memperhatikan bercak-bercak sinar matahari di atas rumput dan bayangan awan-awan yang melayang lewat di atas lantai lembah. Gumaman para Ent masih terus berlanjut. Tempat itu terasa sangat aneh dan jauh, di luar dunia mereka, jauh dari semua yang pernah terjadi pada mereka. Suatu kerinduan besar timbul dalam diri mereka, kepada wajah wajah dan suara-suara kawan-kawan mereka, terutama Frodo dan Sam, dan kepada Strider.
Akhirnya suara-suara para Ent berhenti, dan ketika menoleh ke belakang, mereka melihat Treebeard datang menghampiri, dengan Ent lain bersamanya.
"Hm, hum, ini aku lagi," kata Treebeard. "Apakah kalian mulai jemu, atau merasa tak sabar, hmm, eh? Well, aku khawatir kalian mau tak mau harus sabar dulu. Kami sudah menyelesaikan tahap pertama, tapi aku masih harus memberi penjelasan pada mereka yang tinggal jauh, jauh dari Isengard, dan mereka yang belum sempat kutemui sebelum Moot, dan setelah itu kami harus memutuskan apa yang akan kami lakukan. Tapi memutuskan apa yang harus dilakukan tidak makan waktu lama bagi para Ent, tidak seperti kalau harus meneliti dulu semua fakta dan kejadian yang mesti diputuskan. Tapi kami memang masih akan cukup lama di sini: mungkin beberapa hari. Jadi, aku membawa seorang teman untuk kalian. Dia mempunyai rumah Ent dekat sini. Namanya dalam bahasa Peri adalah Bregalad. Dia bilang dia sudah mengambil keputusan, dan tak perlu lagi mengikuti Moot. Hm, hm, dia Ent yang paling tergesa-gesa di antara kami. Pasti kalian akan cocok.
Selamat tinggal!" Treebeard membalikkan badan dan meninggalkan mereka.
Bregalad berdiri beberapa lama, mengamati kedua hobbit itu dengan serius; mereka memandangnya, bertanya-tanya kapan ia akan menunjukkan tanda-tanda "ketergesaan". Bregalad berpostur tinggi, dan rupanya termasuk Ent yang masih muda; ia mempunyai kulit tangan dan kaki mulus mengilap; bibirnya merah segar, dan rambutnya kelabu kehijauan. Ia bisa membungkuk dan bergoyang seperti pohon ramping ditiup angin. Akhirnya ia berbicara; suaranya, meski bergema, lebih tinggi dan jernih daripada suara Treebeard.
"Ha, hmm, kawan-kawanku, mari kita berjalan!" katanya. "Aku Bregalad, artinya Quickbeam, Sinar Cepat, dalam bahasamu. Tapi itu hanya nama julukan, tentu. Mereka memanggilku dengan nama itu sejak aku bilang ya pada seorang Ent yang lebih tua sebelum dia menyelesaikan pertanyaannya. Aku juga minum cepat sekali; dan pergi sementara yang lain masih membasahi janggut mereka. Mari ikut aku!"
la mengulurkan dua lengan-yang indah bentuknya, dan memberikan satu tangan berjari panjang pada masing-masing hobbit. Seharian mereka berjalan jalan di hutan dengannya, bernyanyi dan tertawa; Quickbeam sering tertawa. Ia tertawa kalau matahari keluar dari balik awan, tertawa kalau mereka sampai di sebuah sungai atau mata air: lalu ia membungkuk dan memercikkan air ke kaki dan kepalanya; kadang-kadang ia tertawa mendengar bunyi atau bisikan di tengah pepohonan. Setiap kali melihat pohon rowan, ia berhenti sejenak dengan tangan terulur, lalu bernyanyi dan bergoyang.
Ketika malam tiba, ia membawa mereka ke rumah Ent-nya: rumah itu tak lebih dari sebuah batu berlumut yang diletakkan di tumpukan tanah kering berumput padat di bawah tebing hijau. Pohon-pohon rowan tumbuh melingkar di seputarnya, dan ada air (seperti di dalam semua rumah Ent), mata air yang keluar menggelembung dari tebing. Mereka bercakap-cakap sejenak saat kegelapan menyongsong hutan. Tak jauh dari sana, suara-suara Entmoot masih terdengar, tapi kini lebih dalam dan tidak begitu santai; sesekali satu suara besar naik dengan bunyi musik tinggi dan membangkitkan semangat, sementara suara-suara lain mereda. Tapi di samping mereka Bregalad berbicara dengan lembut dalam bahasa mereka sendiri, hampir berbisik; mereka diberitahu bahwa ia termasuk rakyat Skinbark, dan negeri tempat mereka dulu tinggal sudah porak-poranda. Bagi para hobbit, hal itu sudah cukup untuk menjelaskan "ketergesaan" Bregalad, setidaknya dalam masalah Orc.
"Di rumahku dulu banyak pohon rowan," kata Bregalad, perlahan dan sedih, "pohon rowan yang mulai tumbuh ketika aku masih Ent kecil, zaman ketika dunia masih tenang. Yang paling tua ditanam oleh para Ent untuk mencoba menyenangkan hati Entwives; tapi mereka cuma memandang pohon-pohon itu dan tersenyum, dan mengatakan mereka tahu di mana bunga-bunga mekar lebih putih dan buah-buahan lebih banyak tumbuh. Namun dari sekian banyak pohon rasa Mawar, tak ada yang seindah pohon rowan bagiku. Pohon-pohon ini tumbuh dan tumbuh, sampai bayangan masing-masing pohon bagaikan sebuah balairung hijau; buah berry mereka yang merah sarat bergantungan di musim gugur, indah menakjubkan. Burung-burung biasanya bergerombol di situ. Aku suka burung, bahkan saat mereka berceloteh; dan pohon rowan menghasilkan cukup buah untuk dibagikan. Tapi burung-burung menjadi tidak ramah dan rakus; mereka merusak pohon-pohon itu, melemparkan buahnya, dan tidak memakannya. Lalu Orc-Orc datang dengan kapak dan menebang pohon-pohonku. Aku datang memanggil mereka dengan nama panjang mereka, tapi mereka tidak bergetar, mereka tidak mendengar atau menjawab: mereka tergeletak mati.
Oh Orofarne, Lassemista, Carnimirie! Oh rowan elok, di rambutmu bunga putih mekar! Oh rowanku, kulihat kau bersinar di musim panas, di hari yang segar, Kulitmu cerah, dedaunanmu ringan, suaramu lembut teduh: Di kepalamu mahkota merah keemasan kaujunjung penuh! Oh rowan yang mati, rambutmu kering dan kelabu; Mahkotamu runtuh, suaramu senyap selamanya ditelan debu.
Oh Orofarne, Lassemista, Carnimirie!
Kedua hobbit tertidur mendengar nyanyian perlahan Bregalad, yang rupanya meratapi dalam banyak bahasa, kejatuhan pohon-pohon yang dicintainya.
Hari berikutnya juga mereka habiskan bersama Bregalad, tapi mereka tidak pergi jauh dari rumahnya. Kebanyakan mereka duduk diam di bawah naungan tebing: karena angin lebih dingin, dan awan-awan lebih rapat dan kelabu; hanya sedikit sinar matahari, di kejauhan suarasuara para Ent di Moot masih naik-turun, kadang keras dan kuat, kadang rendah dan sedih, kadang cepat, kadang lambat dan khidmat seperti nyanyian saat pemakaman. Malam kedua datang, dan para Ent masih mengadakan rapat di bawah awan yang berpacu dan bintang-bintang yang resah.
Hari ketiga tiba, muram dan berangin. Saat matahari terbit, suara suara Ent berkembang menjadi gegap gempita, lalu mereda lagi. Ketika pagi semakin larut, angin berhenti dan udara seolah berat penuh penantian. Kedua hobbit melihat Bregalad sekarang mendengarkan dengan saksama, meski bagi mereka, di lembah rumah Bregalad, suara para Ent terdengar sayup sekali.
Siang tiba, matahari yang sedang melayang ke arah barat, ke pegunungan, memancarkan sinar-sinar panjang kuning di antara celah-celah dan retakan-retakan awan. Mendadak mereka menyadari bahwa suasana sangat hening; seluruh hutan berdiri diam mendengarkan. Tentu saja, suara-suara para Ent sudah berhenti. Apa artinya itu? Bregalad berdiri tegak dan tegang, menengok ke utara, ke arah Derndingle.
Lalu dengan bunyi menggemuruh terdengar teriakan nyaring: rahuum-rah! Pohon-pohon bergetar dan membungkuk, seolah ditimpa embusan angin keras. Hening kembali sesaat, lalu mulai terdengar musik mars yang bunyinya seperti genderang-genderang khidmat, dan di atas suara pukulan dan dentuman yang mengalir itu, terdengar suara-suara bernyanyi tinggi dan kuat.
Kami datang, kami datang dengan pukulan genderang: ta-runda runda runda rom!
Para Ent berdatangan: semakin dekat dan nyaring lagu mereka terdengar:
Kami datang, kami datang dengan terompet dan genderang: ta-runa runa runa rom!
Bregalad mengangkat kedua hobbit dan melangkah pergi dan rumahnya.
Tak lama kemudian, mereka melihat barisan Ent berjalan mendekat: para Ent berjalan dengan langkah-langkah besar menuruni lereng, mendekati mereka. Treebeard paling depan, dengan sekitar lima puluh pengikut di belakangnya, berbaris dua-dua, menyamakan langkah dan mengetuk irama dengan tangan, ke sisi tubuh mereka. Ketika mereka mendekat, kilatan dan kilauan mata mereka bisa terlihat.
"Hum, hom! Kami datang dengan berdebum, akhirnya kami datang!" teriak Treebeard ketika melihat Bregalad dan kedua hobbit. "Ayo, ikutlah kami! Kami akan berangkat. Kami pergi ke Isengard!"
"Ke Isengard!" para Ent berteriak dengan aneka ragam suara.
"Ke Isengard!"
Ke Isengard! Meski Isengard dilingkari dan dengan pintu batu karang; Meski Isengard kuat dan keras, sedingin batu dan gersang seperti tulang, Kami pergi, kami pergi, kami pergi berperang, membelah batu dan mendobrak gerbang; Karena batang dan dahan sudah terbakar sekarang, bara api meregang-kami pergi perang! Ke negeri maut dengan langkah maut, dengan pukulan genderang, kami datang, kami datang; Ke Isengard dengan maut kami datang! Dengan maut kami datang, dengan maut kami datang.
Begitulah mereka bernyanyi, sambil berjalan ke arah selatan.
Dengan mata bersinar-sinar, Bregalad masuk ke dalam barisan, di samping Treebeard. Sekarang Ent tua itu mengambil kembali kedua hobbit, dan meletakkan mereka di pundaknya lagi; begitulah, mereka melaju dengan gagah di depan rombongan, bernyanyi dengan jantung berdegup kencang dan kepala tegak. Meski sudah menduga akan terjadi sesuatu, kedua hobbit merasa kaget atas perubahan yang terjadi pada para Ent. Begitu mengejutkan, seperti pecahnya banjir yang sudah lama ditahan bendungan.
"Para Ent ternyata cukup cepat juga mengambil keputusan," Pippin memberanikan diri berkata, setelah beberapa saat berlalu, ketika nyanyian itu berhenti sesaat, dan hanya pukulan tangan dan kaki yang terdengar nyaring.
"Cepat?" kata Treebeard. "Hum! Ya, memang. Lebih cepat daripada yang kuduga. Bahkan aku belum pernah melihat semangat mereka bangkit seperti sekarang, selama berabad-abad. Kami kaum Ent tidak suka marah; dan kami tak pernah marah, kecuali sudah jelas bahwa pepohonan dan hidup kami berada dalam bahaya besar. Itu tidak terjadi di Hutan ini sejak peperangan Sauron dan Manusia dari Samudra.
Yang membuat kami sangat marah adalah ulah kaum Orc, yang menebangi pohon dengan sembarangan rarum bahkan tanpa maksud menggunakan kayu-kayu itu sebagai kayu api; dan pengkhianatan seorang tetangga, yang seharusnya membantu kami. Penyihir seharusnya bersikap lebih arif, mereka kan lebih arif. Tak ada umpatan dalam bahasa Peri, Ent, atau bahasa-bahasa manusia yang cukup untuk pengkhianatan semacam itu. Tundukkan Saruman!"
"Apa kalian benar-benar akan mendobrak pintu-pintu Isengard?" tanya Merry.
"Ho, hm, well, kami bisa! Kau mungkin tidak tahu betapa kuatnya kami. Mungkin kau pernah dengar tentang troll? Mereka luar biasa kuat.
Tapi troll hanya tiruan, dibuat oleh Musuh di Zaman Kegelapan Besar, untuk mengejek para Ent, seperti Orc juga merupakan penghinaan terhadap para Peri. Kami lebih kuat daripada troll. Kami diciptakan dan tulang-belulangnya bumi. Kami bisa membelah batu seperti akar pepohonan, tapi lebih cepat, jauh lebih cepat, kalau kami sedang marah! Kalau kami tidak ditebang, atau dihancurkan oleh api atau serangan sihir, kami mampu membelah Isengard menjadi serpihan serpihan dan memecah dinding-dindingnya menjadi puing. Tapi Saruman pasti akan mencoba menghentikanmu, bukan?"
"Hm, ah, ya, memang begitu. Aku tidak lupa hal itu. Bahkan aku sudah lama memikirkannya. Tapi banyak Ent yang lebih muda daripada diriku, dalam hitungan umur pohon. Mereka semua sudah marah sekarang, dan pikiran mereka tertuju pada satu hal: menghancurkan Isengard. Tapi tak lama lagi mereka akan mulai berpikir kembali; kemarahan mereka akan mereda sedikit, saat kami minum malam. Betapa hausnya kami nanti! Tapi sekarang biarkan mereka berjalan berbaris dan bernyanyi! Masih panjang jalan yang harus kami tempuh, dan masih ada waktu untuk berpikir. Sudah bagus kami bisa memulai ini." Treebeard berjalan terus, bernyanyi dengan yang lain untuk beberapa saat. Tapi setelah beberapa lama suaranya semakin sayup menjadi bi sikan, dan akhirnya ia diam. Pippin melihat dahinya yang tua berkerut dan kusut. Akhirnya ia menengadah lagi, dan Pippin melihat pandangan sedih di matanya, sedih tapi bukan tidak bahagia. Ada sinar di matanya, seolah nyala hijau itu sudah tenggelam semakin dalam ke sumur gelap pikirannya.
"Tentu saja, sangat mungkin, kawan-kawanku," kata Treebeard perlahan, "sangat mungkin bahwa kami akan menuju kematian: perjalanan terakhir kaum Ent. Tapi, kalaupun kami tetap di rumah dan tidak berbuat apa-apa, kematian tetap akan menemukan kami, cepat atau lambat.
Pikiran itu sudah lama muncul dalam hati kami; karena itulah kami sekarang berjalan. Ini bukan keputusan yang terburu-buru. Sekarang setidaknya perjalanan terakhir kaum Ent pantas dibuatkan lagu. Yah," keluhnya, "kami mungkin bisa menolong orang lain sebelum kami musnah. Bagaimanapun, aku sebenarnya ingin nyanyian tentang Entwives menjadi kenyataan. Aku sangat ingin melihat Fimbrethil lagi. Tapi begitulah, kawan-kawanku, lagu-lagu-seperti halnya pohon hanya berbuah pada waktunya sendiri, dan dengan cara mereka sendiri: dan kadang-kadang mereka layu sebelum waktunya."
Para Ent berjalan dengan kecepatan tinggi. Mereka sudah turun ke dalam lipatan tanah panjang yang menjalar ke selatan; sekarang mereka mulai mendaki lagi, naik, naik sampai ke punggung bukit barat. Hutan-hutan mulai habis, dan mereka sampai ke gerombolan pohon birch yang tersebar di sana-sini, lalu ke lereng-lereng gundul yang hanya ditumbuhi beberapa pohon cemara kurus kering. Matahari terbenam di balik punggung bukit gelap di depan. Senja kelabu tiba.
Pippin menoleh ke belakang. Jumlah Ent sudah bertambah atau apa yang terjadi? Di tempat lereng-lereng gundul samar yang sudah mereka lewati, ia merasa melihat sekelompok pohon. Tapi mereka bergerak! Mungkinkah pohon-pohon Fangorn bangun dan seluruh hutan bangkit, berjalan mendaki bukit-bukit, menuju perang? ia menyeka matanya sambil bertanya-tanya, apakah rasa kantuk dan kegelapan menipunya; tapi sosok-sosok besar kelabu itu terus bergerak maju. Ada bunyi seperti angin di dahan-dahan. Para Ent sudah mendekati mahkota punggung bukit sekarang, dan semua nyanyian sudah berhenti. Malam tiba, semuanya hening: tak ada yang terdengar, kecuali getaran samarsamar bumi di bawah kaki para Ent, dan bunyi desiran, seperti bisikan lemah banyak dedaunan. Akhirnya mereka berdiri di puncak, menatap ke dalam sumur gelap: belahan besar di ujung pegunungan: Nan Curunir, Lembah Saruman.
"Malam menggantung di atas Isengard," kata Treebeard.

BERSAMBUNG KE BAB 5/11 >>> 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates