Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label (J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN. Tampilkan semua postingan

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 2 Bab 10/10 PERPECAHAN

<<< SEBELUMNYA


Aragorn menuntun mereka ke cabang kanan Sungai. Di sini, di sisi baratnya, di bawah bayangan Tol Brandir, padang rumput hijau menghampar sampai ke tepi sungai dari kaki Amon Hen. Di belakangnya muncul lereng-lereng pertama bukit yang mendaki lembut, ditumbuhi pepohonan, dan pepohonan berbaris terus ke arah barat, sepanjang pantai sungai yang melengkung. Mata air kecil mengucur ke bawah, membasahi rumput.
"Di sini kita akan istirahat malam ini," kata Aragorn. "Ini halaman Parth Galen: tempat indah di musim panas zaman dulu. Mudah-mudahan kejahatan belum sampai ke sini."

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 2 Bab 9/10 SUNGAI BESAR

<<< SEBELUMNYA



Frodo dibangunkan Sam. Ia menemukan dirinya terbaring, diselimuti dengan baik, di bawah pohon-pohon tinggi berkulit kelabu di sebuah pojok tenang, di hutan tebing barat Sungai Besar Anduin. Ia sudah tidur sepanjang malam, dan cahaya kelabu pagi tampak redup di antara dahan-dahan gundul. Gimli sedang sibuk dengan api kecil di dekatnya.
Mereka berangkat lagi sebelum pagi merebak. Bukan karena kebanyakan anggota Rombongan ingin terburu-buru pergi ke selatan: mereka puas bahwa keputusan yang harus mereka ambil, paling lambat saat mereka sampai ke Rauros dan Pulau Tindrock, masih beberapa hari di depan; dan mereka membiarkan Sungai itu membawa mereka dengan kecepatannya sendiri, tanpa ingin mempercepat perjalanan menuju bahaya yang ada di depan, arah mana pun yang mereka pilih pada akhirnya. Aragorn membiarkan mereka mengapung mengikuti aliran sungai sekehendak mereka, menghemat tenaga menghadapi keletihan yang akan datang. Tapi ia menuntut setidaknya mereka berangkat awal setiap pagi, dan berjalan sampai larut sore; karena dalam hati ia merasa waktu sudah mendesak, dan ia khawatir sang Penguasa Kegelapan tidak berdiam diri ketika mereka berlama-lama di Lorien.

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 2 Bab 8/10 SELAMAT TINGGAL LORIEN

<<< SEBELUMNYA


Malam itu Rombongan dipanggil lagi ke istana Celeborn. Di sana Lord Celeborn dan Lady Galadriel menyambut mereka dengan kata-kata indah. Akhirnya Celeborn membicarakan keberangkatan mereka.
Katanya, "Sekaranglah saatnya mereka yang mau melanjutkan Pencarian harus menguatkan hati untuk meninggalkan negeri ini. Mereka yang tak ingin melanjutkan, boleh tetap tinggal di sini, untuk sementara. Tapi entah mereka pergi atau tinggal, tak ada kepastian akan kedamaian. Karena sekarang kita sudah mendekati kiamat. Mereka yang mau, boleh menunggu di sini, hingga jalan dunia terbuka lagi, atau sampai kami mengumpulkan mereka untuk kebutuhan terakhir Lorien. Setelah itu mereka boleh kembali ke negeri mereka sendiri, atau pergi ke rumah peristirahatan lama untuk mereka yang jatuh dalam pertempuran."

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 2 Bab 7/10 CERMIN GALADRIEL

<<< SEBELUMNYA


Matahari terbenam di balik pegunungan, dan bayangan-bayangan di hutan semakin gelap, ketika mereka berjalan lagi. Sekarang mereka masuk ke gerombolan pohon, di mana senja sudah mulai terasa. Malam menghampiri di bawah pepohonan, sementara mereka berjalan, dan para Peri membuka selubung lampu mereka.
Tiba-tiba mereka sampai di sebuah tempat terbuka lagi, di bawah langit malam pucat bertaburkan beberapa bintang yang muncul awal. Di depan mereka ada tempat luas tanpa pohon, berbentuk lingkaran besar dan membelok ke luar di kedua sisinya. Di luarnya ada jurang dalam yang hilang dalam kegelapan, tapi rumput di tebingnya tampak hijau, seolah masih bersinar mengenang matahari yang sudah pergi. Di sisi seberang berdiri menjulang sebuah dinding hijau, mengurung bukit hijau yang dipenuhi pohon mallorn yang lebih tinggi daripada yang telah mereka lihat di negeri itu. Tingginya tak bisa ditebak, tapi dalam cahaya senja itu, mereka tampak seperti menara-menara yang hidup. Di dalam dahan-dahannya yang bercabang-cabang, dan di tengah dedaunannya yang selalu bergerak, menyala lampu-lampu yang tak terhitung jumlahnya—hijau, emas, dan perak. Haldir berbicara pada mereka.

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 2 Bab 6/10 LOTHLORIEN

<<< SEBELUMNYA


"Aduh! Aku khawatir kita tak bisa lebih lama di sini," kata Aragorn. Ia memandang ke arah pegunungan dan mengangkat pedangnya. "Selamat tinggal, Gandalf!" serunya. "Bukankah sudah kukatakan padamu: kalau masuk gerbang Moria, waspadalah? Sayang sekali, ternyata kata-kataku benar! Harapan apa yang kami miliki tanpa dirimu?"
Ia menoleh kepada yang lainnya. "Kita harus bisa melanjutkan tanpa harapan," katanya. "Mungkin kita bisa membalas suatu saat nanti. Bersiap-siaplah, dan jangan lagi menangis! Ayo! Perjalanan masih panjang, dan banyak yang masih harus dilakukan."

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 2 Bab 5/10 JEMBATAN KHAZAD-DUM

<<< SEBELUMNYA



Para pengembara itu berdiri diam di samping kuburan Balin. Frodo memikirkan Bilbo dan persahabatannya yang panjang dengan orang kerdil itu, dan ia ingat kunjungan Balin ke Shire dulu. Di ruangan berdebu di dalam pegunungan, rasanya itu sudah seribu tahun yang lalu, dan terjadi di belahan dunia lain.
Akhirnya mereka bergerak dan menengadah, dan mulai mencari apa pun yang bisa memberitahu mereka tentang nasib Balin, atau menunjukkan apa yang terjadi dengan bangsanya. Ada sebuah pintu yang lebih kecil di sisi seberang ruangan itu, di bawah corong. Dekat kedua pintu, sekarang mereka bisa melihat tulang-belulang berserakan, di antaranya banyak pedang patah dan kepala kapak, perisai-perisai terbelah dan topi baja. Beberapa pedang itu bengkok: pedang Orc dengan mata pedang hitam.
Banyak relung dipahat di batu dinding, di dalamnya terdapat peti-peti kayu yang diikat besi. Semuanya sudah dipecahkan dan dijarah; tapi di samping salah satu tutup yang hancur tergeletak sisa sebuah buku. Buku itu sudah disayat dan bernoda, dan separuh terbakar, dan begitu banyak noda hitam dan noda-noda gelap lain, seperti darah lama, hingga hanya sedikit yang masih bisa terbaca. Gandalf mengangkatnya hati-hati, tapi halaman-halamannya berderak dan hancur ketika ia meletakkannya di atas keping batu. Ia membacanya beberapa saat, tanpa berbicara. Frodo dan Gimli yang berdiri di sampingnya bisa melihat, saat Gandalf dengan hati-hati membalik halamanhalamannya, bahwa buku itu ditulisi banyak tangan berbeda, dengan lambang-lambang dari Moria dan Lembah, dan di sana-sini dalam tulisan Peri.

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 2 Bab 4/10 PERJALANAN DALAM GELAP

<<< SEBELUMNYA


Sudah sore, dan cahaya kelabu sekali lagi memudar dengan cepat, ketika mereka berhenti untuk bermalam. Mereka letih sekali. Pegunungan terselubung senja yang semakin pekat, dan angin sangat dingin. Gandalf menyisihkan lagi untuk mereka masing-masing satu teguk miruvor dari Rivendell. Selesai makan, ia mengadakan rapat.
"Kita tentu saja tak bisa melanjutkan perjalanan lagi malam ini," katanya. "Serangan di Gerbang Tanduk Merah sudah menguras habis tenaga kita, dan kita harus beristirahat di sini untuk beberapa lama."
"Lalu ke mana kita harus pergi?" tanya Frodo.
"Masih ada perjalanan dan tugas kita," jawab Gandalf. "Tak ada pilihan kecuali berjalan terus, atau kembali ke Rivendell."

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 2 Bab 3/10 CINCIN PERGI KE SELATAN

<<< SEBELUMNYA

Hari itu, setelah Rapat Dewan, para hobbit mengadakan pertemuan sendiri di kamar Bilbo. Merry dan Pippin marah ketika mendengar Sam diam-diam masuk ke Rapat Dewan, dan sudah dipilih sebagai pendamping Frodo.
"Itu sangat tidak adil," kata Pippin. "Bukannya melempar dia keluar dan memborgolnya, Elrond malah memberinya imbalan untuk kekurangajarannya!"
"Imbalan!" kata Frodo. "Aku tak bisa membayangkan hukuman yang lebih berat. Kau bicara tanpa pikir panjang: dikutuk untuk pergi dalam perjalanan tanpa harapan, itu imbalan? Kemarin aku bermimpi tugasku sudah selesai, dan aku bisa beristirahat di sini untuk waktu lama, bahkan mungkin untuk selamanya."

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 2 Bab 2/10 DEWAN PENASIHAT ELROND

<<< SEBELUMNYA


Keesokan harinya Frodo bangun pagi, merasa segar dan sehat. Ia berjalan sepanjang teras di atas Bruinen yang mengalir berisik, memperhatikan matahari yang sejuk dan pucat terbit di atas pegunungan jauh di sana, sinarnya jatuh miring melalui kabut tipis keperakan; embun berkilauan di atas dedaunan kuning, dan anyaman jaring labah-labah berkelip di setiap semak. Sam berjalan di sampingnya, tidak mengatakan apa pun, hanya menghirup udara, dan sesekali memandang dengan penuh keheranan ke ketinggian yang menjulang di Timur. Salju putih tampak di atas puncak-puncaknya.

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 2 Bab 1/10 BANYAK PERTEMUAN

<<< SEBELUMNYA


Frodo bangun dan mendapati dirinya berbaring di tempat tidur. Mulanya ia mengira ia bangun kesiangan, setelah suatu mimpi panjang yang tidak menyenangkan, yang masih melayang-layang di batas ingatannya. Atau mungkin ia sakit? Tapi langit-langit kelihatan aneh; datar, dan ada balok-balok gelap yang dipenuhi ukiran. Ia masih berbaring beberapa lama sambil memandangi bercak-bercak sinar matahari pada dinding, dan mendengarkan bunyi air terjun. °
"Di mana aku, dan jam berapa sekarang?" ia berkata keras-keras pada langit-langit.
"Di Rumah Elrond, dan sekarang jam sepuluh pagi," sebuah suara berkata. "Sekarang pagi tanggal dua puluh empat Oktober, kalau kau mau tahu."

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 1 Bab 12/12 PELARIAN KE FORD

<<< SEBELUMNYA


Ketika Frodo sadar kembali, ia masih mencengkeram Cincin itu dengan erat. Ia berbaring dekat api, yang sekarang sudah ditumpuk tinggi dan menyala terang sekali. Ketiga kawannya membungkuk di atasnya.
"Apa yang terjadi? Di mana raja pucat itu?" tanya Frodo liar.
Sesaat mereka terlalu gembira mendengar ia berbicara, sehingga tidak langsung menjawabnya; lagi pula, mereka tidak memahami pertanyaannya. Akhirnya ia tahu dari Sam bahwa mereka tidak melihat apa pun, kecuali bentuk-bentuk samar-samar dan gelap yang datang ke arah mereka. Mendadak dengan ngeri Sam menyadari majikannya sudah hilang; pada saat itu sebuah bayangan hitam berlari melewatinya, dan ia jatuh. Ia mendengar suara Frodo, tapi seakan-akan datang dari jauh sekali, atau dari bawah tanah, meneriakkan kata-kata aneh. Mereka tidak melihat apa pun lagi, sampai mereka tersandung tubuh Frodo yang berbaring seperti mati, wajah tertelungkup di atas rumput, dengan pedangnya di bawahnya. Strider menyuruh mereka mengangkatnya dan membaringkannya di dekat api, lalu ia menghilang. Sekarang semua itu sudah cukup lama berlalu.
Sam jelas sudah mulai meragukan Strider lagi; tapi sementara mereka berbicara, Strider kembali, muncul tiba-tiba dari kegelapan. Mereka bergerak kaget, dan Sam menghunus pedangnya, sambil berdiri di atas Frodo; tapi Strider dengan cepat berjongkok di sisinya.
"Aku bukan Penunggang Hitam, Sam," katanya lembut, " juga tidak bersekongkol dengan mereka. Aku tadi berupaya mencari tahu tentang gerakan mereka; tapi aku tidak menemukan apa pun. Aku tidak mengerti, mengapa mereka pergi dan tidak menyerang lagi. Tapi sekarang tidak ada perasaan tentang kehadiran mereka di mana pun."
Setelah mendengar cerita Frodo, Strider menjadi sangat khawatir. Ia menggelengkan kepala dan mengeluh, lalu menyuruh Pippin dan Merry memanaskan sebanyak mungkin air yang bisa mereka tampung dalam ceret kecil mereka, dan membasuh luka Frodo dengan itu. “Jaga agar api tetap bagus, dan usahakan Frodo tetap hangat!" katanya. Lalu ia bangkit dan berjalan menjauh, memanggil Sam. "Rasanya sekarang aku lebih memahami hal ini," katanya dengan suara rendah. "Kelihatannya hanya ada lima orang di pihak musuh. Mengapa mereka tidak semua di sini, aku tidak tahu; tapi kurasa mereka tak menduga akan mendapat perlawanan. Mereka mundur untuk sementara. Tapi tidak jauh. Mereka akan kembali lain kali, kalau kita tak bisa lari. Mereka hanya menunggu, karena mengira tujuan mereka sudah hampir tercapai, dan bahwa Cincin itu tak bisa terbang lebih jauh lagi. Aku cemas mereka mengira majikanmu sudah mendapat luka mematikan, yang akan membuatnya menyerah menuruti kemauan mereka. Kita lihat saja!"

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 1 Bab 11/12 PISAU DALAM GELAP

<<< SEBELUMNYA

Saat mereka bersiap-siap tidur di penginapan di Bree, kegelapan menggantung di atas Buckland; kabut mengalir di lembah dan sepanjang tepi sungai. Rumah di Crickhollow sepi sekali. Fatty Bolger membuka pintu dengan hati-hati dan mengintip ke luar. Suatu perasaan takut muncul dalam dirinya dan tumbuh terus sepanjang hari, hingga ia tak bisa beristirahat atau tidur: ada ancaman yang menggantung dalam udara malam tak berangin itu. Ketika ia memandang ke luar, ke dalam kegelapan, sebuah bayangan hitam bergerak di bawah pepohonan; gerbang terbuka sendiri dan tertutup lagi tanpa suara. Rasa ngeri mencekam Fatty. Ia mundur, dan sejenak berdiri gemetaran di lorong. Lalu ia menutup pintu dan menguncinya.
Malam semakin larut. Terdengar pelan bunyi kuda digiring diam-diam sepanjang jalan. Di luar gerbang mereka berhenti, dan tiga sosok masuk, seperti bayangan malam merangkak di tanah.

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 1 Bab 10/12 STRIDER

<<< SEBELUMNYA

Frodo, Pippin, dan Sam kembali ke ruang duduk. Tidak ada cahaya di sana. Merry tidak ada, dan api sudah mengecil. Baru setelah nyala api mereka embus sampai berkobar tinggi, dan beberapa kayu bakar dilemparkan ke atasnya, mereka sadar bahwa Strider mengikuti mereka. Itu dia duduk dengan tenang di dekat pintu!
"Halo!" kata Pippin. "Siapa kau, dan apa maumu?"
"Aku dipanggil Strider," jawabnya

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 1 Bab 9/12 DI BAWAH PAPAN NAMA KUDA MENARI

<<< SEBELUMNYA

Bree merupakan desa utama di Bree-land, suatu wilayah kecil berpenduduk, seperti sebuah pulau di tengah tanah-tanah kosong di sekelilingnya. Selain Bree, ada Staddle di sisi lain bukit, Combe di lembah dalam sedikit lebih ke timur, dan Archet di pinggir hutan Chetwood. Di sekitar Bree-hill dan desa-desanya terletak wilayah kecil yang terdiri atas padang rumput dan hutan jinak yang hanya beberapa mil luasnya.
Orang-orang Bree berambut cokelat, berbadan lebar dan agak pendek, periang dan sangat bebas: mereka bangsa merdeka, tapi mereka lebih akrab dengan kaum hobbit, Kurcaci, Peri, dan penduduk lain di dunia sekitar mereka daripada Makhluk-Makhluk Besar lain. Menurut dongeng mereka sendiri, mereka penduduk asli dan keturunan Manusia pertama yang pernah mengembara ke bagian Barat Dunia Tengah. Hanya sedikit yang bertahan dalam huru-hara di Zaman Peri; tapi ketika para Raja kembali lagi melalui Laut Besar, mereka menemukan orang-orang Bree masih di sana, dan sekarang pun mereka masih di sana, ketika ingatan kepada Raja-Raja lama sudah memudar ke dalam rumput.

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 1 Bab8/12 KABUT DI ATAS BARROW-DOWNS

<<< SEBELUMNYA

Malam itu mereka tidak mendengar suara apa pun. Tapi entah di dalam mimpinya, atau di luarnya, Frodo mendengar nyanyian indah mengalir dalam pikirannya: lagu yang seolah datang bagai cahaya remang-remang di balik tirai hujan kelabu, dan semakin kuat, hingga mengubah tirai itu menjadi kaca dan perak, yang lalu tersingkap, menampakkan negeri hijau yang terhampar di bawah matahari yang terbit dengan cepat.
Pemandangan itu melebur menjadi keterjagaan; dan ternyata Tom sedang bersiul seperti sepohon penuh burung; sinar matahari sudah jatuh miring di atas bukit, dan melalui jendela yang terbuka. Di luar semuanya hijau dan pucat keemasan.
Setelah sarapan, yang kembali mereka makan sendirian, mereka bersiap-siap untuk pamit, dengan berat hati, meski pagi itu indah: sejuk, cerah, dan bersih di bawah langit musim gugur yang biru tipis tersapu air. Udara segar datang dari Barat-laut. Kuda-kuda mereka yang tenang hampir-hampir tampak lincah, mendengus-dengus, dan bergerak-gerak gelisah. Tom keluar dari rumah, melambaikan topinya dan menari-nari di ambang pintu, menyuruh para hobbit untuk naik dan berangkat pergi dengan lancar.
Mereka melaju melewati jalan yang membentang dari belakang rumah, dan mendaki ke arah ujung utara pundak bukit tempat rumah itu berlindung. Mereka baru saja turun untuk menuntun kuda-kuda mendaki lereng terakhir yang terjal, ketika tiba-tiba Frodo berhenti.
"Goldberry!" serunya. "Nona cantik dalam gaunnya yang hijau keperakan! Kita belum pamit padanya, dan belum melihatnya sejak kemarin sore!" ia begitu sedih, sampai membalikkan badan untuk turun; tapi, tepat pada saat itu terdengar suatu seruan jernih mengalun. Di sana, di atas pundak bukit, Goldberry berdiri memanggil mereka: rambutnya berkibar bebas, tampak menyala berkilauan kena sinar matahari. Cahaya seperti kilatan air pada rumput berembun menyala dari bawah kakinya, sementara ia menari-nari.
Mereka bergegas mendaki lereng terakhir, dan berdiri dengan napas terengah-engah di samping Goldberry. Mereka membungkuk, tapi dengan lambaian tangannya ia menyuruh mereka memandang sekeliling; mereka memandang dari atas puncak bukit ke daratan di pagi hari. Sekarang pemandangannya jernih dan jauh, tidak lagi berkabut dan terselubung, seperti ketika mereka berdiri di atas bukit kecil di Forest, yang sekarang terlihat berdiri pucat dan hijau di antara pepohonan gelap di Barat. Di sebelah sana, tanah naik membentuk punggung bukit berhutan, hijau, kuning, cokelat muda di bawah sinar matahari, di luarnya tersembunyi lembah Brandywine. Ke Selatan, menyeberangi garis Withywindle, ada kilatan jauh seperti kaca pucat, di mana Sungai Brandywine membentuk lingkaran besar di dataran rendah dan mengalir menghilang dari pengetahuan para hobbit.

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 1 Bab 7/12 DIRUMAH TOM BOMBADIL

<<< SEBELUMNYA

Keempat hobbit itu melangkahi ambang batu yang lebar, dan berdiri diam sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Mereka berada di sebuah ruangan panjang beratap rendah, dipenuhi cahaya lampu yang menggantung dari balok-balok atap; di meja kayu gelap yang disemir berdiri lilin-lilin tinggi dan kuning, menyala terang.
Di sebuah kursi di ujung ruangan, menghadap pintu luar, duduk seorang wanita. Rambutnya yang pirang panjang mengalun turun ke bahunya; gaunnya hijau, sehijau alang-alang muda, bebercak keperakan seperti butir-butir embun; ikat pinggangnya dari emas, berbentuk rangkaian bunga lili bertaburkan mata biru pucat bunga for-get-me-not. Di sekitar kakinya, di dalam bejana-bejana lebar dari tanah hat hijau dan cokelat, mengambang bunga-bunga lili air, sehingga ia tampak seolah bertakhta di tengah kolam.
"Masuklah, tamu-tamu yang budiman!" katanya,

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 1 Bab 6/12 OLD FOREST

<<< SEBELUMNYA

Frodo terbangun tiba-tiba. Di dalam ruangan masih gelap. Merry berdiri dengan satu lilin di tangannya, dan menggedor pintu dengan tangan satunya. "Baik! Ada apa?" kata Frodo, masih gemetar dan bingung.
"Ada apa!" seru Merry. "Sudah waktunya bangun. Sudah jam setengah lima, dan kabut tebal sekali. Ayo! Sam sedang menyiapkan sarapan. Pippin juga sudah bangun. Aku baru saja akan memasang pelana pada kuda-kuda, dan mengambil kuda pengangkut barang. Bangunkan si pemalas Fatty! Setidaknya dia harus bangun dan mengantar kita berangkat."
Tak lama setelah jam enam, para hobbit sudah siap berangkat. Fatty Bolger masih menguap. Mereka keluar diam-diam dari rumah. Merry berjalan di depan, menuntun kuda, menyusuri jalan setapak yang melalui pepohonan di belakang rumah, lalu memotong melintasi beberapa ladang. Dedaunan berkilauan di pohon-pohon, dan setiap rantingnya meneteskan embun; rumput pun kelabu tertutup embun.

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 1 Bab 5/12 KOMPLOTAN TERBONGKAR

<<< SEBELUMNYA

"Sekarang sebaiknya kita sendiri juga pulang," kata Merry. "Rasanya ada yang aneh tentang ini semua; tapi ini harus menunggu sampai kita masuk ke rumah."
Mereka melangkah melewati jalan Ferry yang lurus dan terawat baik, dengan pinggiran bebatuan yang dikapur putih. Kira-kira seratus meter kemudian, mereka tiba di tepi sungai, di mana ada dermaga kayu lebar. Sebuah kapal feri datar besar tertambat di sampingnya. Tonggak-tonggak putih dekat tepi air berkilauan dalam cahaya dua buah lampu pada tiang-tiang tinggi. Di belakang mereka, kabut di ladangladang datar sekarang sudah melayang di atas pagar-pagar; tapi air di depan mereka gelap, dengan hanya beberapa untai nap keriting di antara rumput-rumput ilalang di tepinya. Kelihatannya di seberang sana kabut lebih tipis.
Merry menuntun kudanya melewati jembatan ke atas feri, dan yang lainnya menyusul. Merry kemudian mendorong feri itu perlahan dengan tongkat panjang. Sungai Brandywine mengalir perlahan dan lebar di depan mereka. Di tepi sebelah sana tebingnya curam, dan sebuah jalan mendaki berkelok-kelok dari dermaganya. Lampu-lampu berkelip di sana. Di belakang menjulang Bukit Buck; dan dari situ,

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 1 Bab 4/12 JALAN PINTAS MENUJU JAMUR

<<< SEBELUMNYA

Pagi harinya Frodo bangun dengan perasaan segar. Ia berbaring di sebuah punjung yang terbentuk dari sebatang pohon hidup, dengan dahan-dahan saling berjalin dan menjuntai sampai ke tanah; ranjangnya terbuat dari pakis dan rumput, tebal lembut dan wanginya aneh. Matahari bersinar dari antara dedaunan hijau yang bergoyang-goyang dan masih melekat pada pohon. Ia melompat dan keluar.
Sam duduk di rumput dekat pinggir hutan. Pippin sedang berdiri memperhatikan langit dan cuaca. Tak ada tanda-tanda kehadiran para Peri.
"Mereka meninggalkan buah-buahan dan minuman untuk kita, juga roti," kata Pippin. "Ayo sarapan dulu. Rotinya lezat seperti tadi malam. Aku tak mau menyisakannya untukmu, tapi Sam memaksaku."
Frodo duduk di samping Sam dan mulai makan. "Apa rencana untuk hari ini?" tanya Pippin.
"Berjalan secepat mungkin ke Bucklebury," jawab Frodo,

(J.R.R. TOLKIEN) THE LORD OF THE RINGS: SEMBILAN PEMBAWA CINCIN - Buku 1 Bab 3/12 TIGA MENJADI ROMBONGAN

<<< SEBELUMNYA

"Kau harus pergi diam-diam, dengan segera," kata Gandalf. Sudah dua atau tiga minggu berlalu, dan Frodo masih belum menunjukkan tanda-tanda akan pergi.
"Aku tahu. Tapi sangat sulit melakukan keduanya," keluhnya. "Kalau aku menghilang seperti Bilbo, kisah itu akan menyebar sangat cepat di seluruh Shire."
"Tentu saja kau jangan menghilang!" kata Gandalf.
 
Blogger Templates